Tampilkan postingan dengan label LAMPUNG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LAMPUNG. Tampilkan semua postingan

10 Jan 2011

TENTANG UPACARA

 

Hari senin, dan senin ini adalah pertama di semester genap sekaligus Minggu pertama di tahun yang baru. Semangat dan antusias terasa membuncah di dada ketika harus bertemu dengan muridku pagi ini. Tidak seperti biasanya, saya menjadi bangun dan mandi lebih pagi, mungkin karena semangat yang sudah menggebu. Berangkat lebih awal dengan harapan ingin menyapa mereka yang sudah datang, membunyikan bel dan menpersiapkan upacara kenaikan bendera.

Lain dari biasanya pula, malam tadi kampung kami diguyur hujan, setelah lebih dari satu Minggu ini tidak ada sebutir air pun yang turun dari langit membuat jalan tanah menjadi becek. Sepatu yang sengaja saya semir sadari tadi pagi menjadi sia-sia tertambah sedikit cipratan lumpur di bagian pinggir dan punggung sepatu. Tapi setidaknya hujan tadi malam membuat susana pagi ini manjadi lebih segar dan udara lebih sejuk.

Tepat pukul 07.30, lonceng saya pukul tiga kali tanda aktivitas pagi di hari senin akan dimulai, Upacara kenaikan bendera. Walaupun sebenernya baru tiga guru saja dan bapak kepala sekolah yang sudah datang, namun lonceng itu harus berbunyi tepat waktu pikir saya. Kali ini yang menjadi petugas upacara adalah siswa kelas 6. Siswa yang sudah lebih banyak pengalamannya dibandingkan kelas 5 ataupun kelas 4 yang kerap menjadi petugas pula.

Dulu, ketika pertama kali mengikuti upacara beberapa pemandangan lucu sekaligus miris terlihat dari segala hal yang berkaitan dengan upacara bendera. Dimulai dari beberapa siswa kelas 4 yang masih belum hafal lagu Indonesia raya. Atau pernah juga satu kali lagu tersebut yang mendapat tambahan lirik dari muridku sehingga menjadi lebih panjang, penyebabnya karena bendera agak lama menyentuh ujung atas tiangnya sehingga mereka berinisiatif menambahkan panjang lagunya, agar pas dengan sampainya bendera dengan ujung tiang atas mungkin. Namun seiring berjalannya waktu, mereka lebih pandai melaksanakan tugasnya.

Kembali pada upacara pagi ini. Sudah lebih dari 25 menit namun upacara belum juga kami mulai. Sebagian guru masih malu-malu untuk memasuki lapangan upacara, juga mungkin karena speaker dan aki yang biasanya kami gunakan belum datang. Apes saya pikir setelah ditunggu beberapa lama pun ternyata aki yang biasanya kami pakai ngadat dan mogok untuk digunakan. Alhasil kami harus upacara tanpa pengeras suara (lagi).

Seorang guru berinisiatif mengajak petugas upacara untuk langsung saja memulai upacara walaupun dengan kondisi tanpa speaker dan beberapa guru masih asik di luar lapangan. Saya sendiri berbaris bersama murid-murid yang sepertinya sudah siap untuk mulai upacara.

Dan Upacara pun dimulai dengan apa adanya.

Sejujurnya saat ini saya lebih menghargai maknanya upacara, lebih khidmat dan lebih merasa bahwa upacara itu penting dibandingkan dengan dulu ketika saya masih sekolah. Entah mengapa, saya tidak mengerti alasannya.

******

Belum terlihat ada satu orang pun guru yang berniat menjadi pembina upacara nampaknya, ditandai dengan masih kosongnya tempat yang biasanya para guru berdiri, termasuk saya. Mereka masih tersebar di beberapa penjuru lapangan, sebagian masih berada di depan ruang guru, dan saya masih berdiri di belakang anak kelas 6, saya belum menyiapkan bahan pembicaraan untuk Amanat Upacara. Namun feeling saya merasa tidak enak, karena sepertinya sayalah yang akan berdiri di tengah lapangan itu untuk kedua kalinya menjadi pembina upacara dengan tanpa persiapan. Walaupun sebenarnya saya sangat ingin berdiri di sana, memberikan kalimat-kalimat yang bisa memberikan motivasi untuk belajar lebih keras, atau sekedar untuk bisa memberikan nasihat-nasihat yang membuat mereka tetap senang untuk menuntut ilmu, namun tentunya dengan sedikit persiapan.

Tapi apa daya, suasana yang begitu sejak tak bisa membendung pemimpin upacara itu menghampiri saya dan menjemput saya untuk menjadi pembina upacara. Pasrah saja.

Senin-senin berikutnya saya harus selalu siap berdiri di depan mereka, memberikan kata-kata inspirasional yang bisa membangkitkan setiap aliran darah mereka untuk tetap belajar, karena setiap upacara adalah hari istimewa, hari yang menyenangkan, setidaknya saya mengajarkan kepada mereka bahwa nasionalisme masih ada, nasionalisme harus tetap ada meskipun di tempat yang amat jauh dari ibu kota, di SD Bangun Jaya. Dan saya pun tak pernah takut lagi untuk berdiri paling awal di tempat biasanya para guru berdiri meskipun yang lain belum ada, untuk mereka.

Baca Terus Gan >>

30 Des 2010

TENTANG LILIN DAN HIKMAT HARDONO

 
“Kalian nantinya akan menjadi lilin di tengah masyarakat, menjadi penerang bagi kegelapan disana”
Mungkin kurang lebih itulah istilah yang diungkapkan oleh salah seorang yang sampai saat ini saya kagumi, Hikmat Hardono, Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar. Saya mengagumi beliau karena orang yang satu ini selalu memiliki power dalam mengucapkan kata-katanya. Bahkan sampai saat ini kutipan diatas jika saya ucapkan secara verbal masih sangat kental dengan intonasi dan dialek khas beliau.
Setelah saya berada di lokasi tugas saya, saya berfikir. Pada dasarnya tidak terlalu salah juga apa yang beliau ucapkan. Disini gelap, apalagi bagi keluarga yang tidak memiliki genset, hanya mengandalkan lampu minyak tanah dan sinar bulan yang kehadirannya tidak bisa diharapkan. Kampung kami memang belum tersentuh PLN jadi wajar saja jika gelap. Genset keluarga kami pun hanya mampu menyalakan listrik 4,5 jam saja. Setidaknya itulah waktu kami berbahagia menikmati pasokan listrik yang ada. Walaupun sebenanya saya tahu bukan gelap ini yang dimaksud.
Namun untuk menjadi lilin di tengah kegelapan mereka, saya pikir kurang tepat. Lilin memang adalah sebuah benda yang bisa mengeluarkan cahaya dan membuat lingkungan sekitar menjadi sedikit lebih terang. “sedikit”, memang sedikit bukan?, siapa yang bisa memastikan jika cahaya lilin amat besar sehingga bisa menerangi masyarakat.
Sebagai seorang guru yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa, kita tidak perlu menjadi lilin yang lama kelamaan akan habis. Lilin hanya menyakiti diri mereka sendiri, demi orang lain, demi pancaran cahaya mereka yang amat kecil. Lilin hanya akan hidup jika ada udara, terus apa yang terjadi jika tanpa udara. Mati.
Menjadi pengajar muda bukan menjadi sebuah lilin di masyarakat menurut saya. Karena seorang pengajar muda ada, bukan untuk menyakiti dirinya sendiri, bukan tergantung pada pihak lain, dan tidak boleh pula ada kata mati.
Menjadi pengajar muda harus tetap hidup dimanapun dan sampai kapanpun. Harus bisa melewati tantangan secara mandiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Itulah prinsip pengajar muda di masyarakat menurut saya.
Lalu saya harus menjadi apa? Menjadi genset kah, yang selalu dinanti setiap pukul 6 sore dan ditangisi setiap pukul setengah sebelas malam. bukan, Saya tidak ingin menjadi lilin ataupun genset, saya ingin menjadi matahari. Sinarnya lebih besar. Cahayanya tak ada yang mengalahkan, terik. Bisa dipastikan bahwa matahari kan ada setiap saat di posisi yang sama. Jika pagi datang maka matahari akan datang dari timur dan berujung di barat pada sore hari. Bila malam ia tidak tinggal diam, meskipun kita tak melihatnya, ia masih bisa mentransfer cahayanya pada bulan, atau jika beruntung kita bisa melihat ia memnaggil teman-teman bintangnya yang lain untuk menerangi masyarakat dari gelapnya malam. Bahkan ia pun akan memberik kita keindahan pada saat tertentu dengan sinarnya sehabis hujan lewat pelangi.
Itulah pengajar muda, dibutuhkan, selalu ada, bahkan jika kita kebingungan tak menumukannya, tak perlu berfikir untuk mencarinya karena kita sudah tahu dimana berada.
jangan hanya mau menjadi lilin. Bersikap lah seperti matahari, yang selalu bernyala, di sini, diurat darahku.
Terkadang tidak ada salahnya kita memimpikan menjadi sesuatu yang amat besar. Allah mencatat mimpi kita, percayalah jika pun kita belum menjadi matahari, mungkin orang lain yang menganggap kita sebagai matahari.
Untuk para pengajar muda yang saya anggap matahari, yang tersebar di galaksi-galaksi, iklaskan setiap cahaya yang terpancar dari diri kalian, yakinlah Allah Maha melihat dan mengetahui.
Baca Terus Gan >>

HASIL JEPRETAN KAMERA DIGITAL

Baca Terus Gan >>

28 Des 2010

TAK LEBIH BAIK ATAUPUN BURUK DARI SEKOLAH LASKAR PELANGI

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk bisa mengeksplor sekolah-sekolah yang ada di kecamatan kami. Bersama seorang guru dan dan salah seorang tetangga dari Ibu Guru Asti, kami berenam akhirnya memulai perjalanan. Bu Guru nila dibonceng oleh Bapak guru yang mengajar di sekolahnya, Pa Paino namanya. Bu guru Asti dengan tetangganya, sedangkan saya membonceng Pa Guru Riza.

Perjalanan dimulai, jalanan agak licin dan becek, hujan baru saja turun semalam. Jalanan seputaran kecamatan tak ada yang bisa dikatakan baik, semuanya akan sulit dilewati ketika sehabis hujan turun. Bbahkan untuk melewati jalan poros saja kami harus pelan mengendarai motor kami. Beberapa jalan poros ada yang sudah tidak bisa kami lewati, dan melewati ladang-ladang karet ataupun sawit adalah satu-satunya alternatif yang harus kami tempuh.

SD pertama yang kami datangi adalah SD Sumber Jaya 1. Tidak terlalu bagus kondisi bangunan sekolahnya. Tidak terlalu buruk juga memang. Hanya 3 ruangan yang sudah ter-renovasi dan sisanya masih bangunan lama, temboknya sudah usang, kayu-kayu pada pintu terlihat sudah bolong dimakan rayap. Saya melihat ada sembilan pintu ruangan, saya pikir tidak semuanya ruangan kelas, karena ukurannya ada hyang berbeda. Ruangan-ruangan terbagi menjadi tiga deret membentuk huruf U dan terdapat lapangan ditengahnya. Sayang ini liburan jadi kami tidak melihat bagaimana kondisi dan proses belajar mengajar dilakukan di sekolah ini.

Kami berkesempatan mengunjungi rumah bapak kepala sekolah yang bertugas untuk SD sumber Jaya 1 di rumahnya. Dari informasi yang didapat bahwa ada sembilan orag guru yang mengajar di sekolah tersebut. Sepertinya sudah sangat ngepas untuk bisa menjalankan aktivitas sehari-hari. Enam untuk guru kelas dan sisnya Guru Agama dan Guru Olahraga.

Sekolah kedua yang kami datangi adalah SD Sumber Jaya 2. Sekolah yang kami datangi ini agak spesial nampaknya. Ini ditandai dengan perjalanan menuju sekolah ini, medan jalannnya lumayan sulit, melewati kebun karet seperti biasanya memang namun tidak jarang kami harus berhenti dan memastikan jalan yang kami akan lewati cukup layak untuk digilas oleh ban motor. Di tengah perjalanan kami menemukan pula jembatan dari kayu yang kecil, untuk melewati ini, lebih aman kalo Bapak guru Riza harus turun terlebih dahulu.

Selang beberapa puluh menit kemudian kami sampai di perkampungan, beberapa ibu-ibu mulai terlihat dipingggir jalan sedang mengasuh anaknya. Tepat diujung jalan pertama kami menemukan sekolah yang kami tuju. SD Sumber Jaya 2, papan nama yang tertera di depan bangunan itu. Sebelah kiri lapangan nampak ada dua bapak sedang menyelesaikan pekerjaannya sebagai buruh bangunan. Sekolah ini sepertinya seang mendapatkan bantuan untuk membangun dua ruang kelas baru, mungkin pekerjaannya baru 80 % terselesaikan. Di sebelah tengah sudah berdiri 2 ruangan kelas beserta ruang guru. Sisanya sebelah kiri yang saya lihat adlah bangunan semi pemananen menggunakan kayu, agak kurang layak jika saya sebut ini kelas, hampir mau roboh sepertinya.

Ketika kami masuk menuju ruangan itu, saya langsung berfikir. Apa ada yang mau sekolah di tempat seperti ini? Apakah mereka masih mengunakan ruangan ini untuk belajar? Sepertinya iya karena baru dua kelas yang kami lihat dan sisa empat kelas lain, harus menggunakan ruang ini.

Bangunannya tidak lebih baik ataupun lebih buruk dari SD Muhammadiyah Gantong yang digambarkan Andrea Hirata di laskar Pelangi, karena sekolah yang kami lihat (belum) menggunakan penyangga kayu di sebelah sisinya untuk menahan agar tidak roboh. Namun beberapa kayu sudah lepas dari tempatnya sehingga nampak beberapa bolongan diantara penyekat antar ruangan.

Papan tulis hitam nampak menggantung di setip ruangan, saya tidak melihat ada kapur di sekitar papan tulis ini. Beberapa kursi berjejer kurang rapi ke arah belakang. Sudah agak berdebu, penyebabnya mungkin karena sedang liburan dan tidak digunakan. Tak ada jendela yang saya lihat, namun pencahayaan tetap masuk, dari celah-celah diantara kayu-kayu yang disusun horizontal memanjang dari kiri ke kanan.

Entah kenapa beberapa diantara kami malah senang menemukan sekolah ini. Agak sedikit miris terdengar, saya pikir ini hanya ada dalam reka-rekaan kami saja. Malah seharusnya kami merasa terenyuh, karena masih ada sekolah yang seperti ini. Memang bangunan fisik tidak selalu menentukan kualitas siswa yang bersekolah di SD ini. Tapi setidaknya itu akan menjadi faktor pendukung, jika lingkungan dan kondisinya nyaman untuk belajar maka semangat dan motivasinya pun akan bertambah saya pikir.

Dari informasi yang saya dapat, hanya ada 7 guru yang mengajar di tempat ini, sudah dengan Kepala sekolah. Dan anehnya rumah guru yang mengajar di sekolah ini bukan penduduk desa ini, bahkan kepala sekolahnya saja berasala dari kampung SP 3, harus melewati kampung saya tinggal ditambah jalan setapak di kebun karet yang saya lewati tadi untuk sampai di sekolah ini. Pasti akan lebih sulit dilewati lagi jika ada hujan.

Saya jadi berfikir untuk bisa mengajar di sekolah ini. Semoga satu sampai dua hari dari seminggu saya bisa mengajar di sini.

Tunggu cerita berikutnya tentang saya yang mengajar di sekolah ini.

Baca Terus Gan >>

25 Des 2010

TENTANG POHON KARET

 

Entah ada berapa juta pohon karet yang berdiri tegak di tempat aku tinggal. Hampir setiap hari aku melewatinya dan rasanya tak pernah habis-habisnya pohon itu. Dengan jumlah mereka yang banyak terkadang menyesatkan, menyeramkan bahkan membuat paranoid. Jalan poros yang ada memang sangat sulit dilalui dan menerobos melalui kebun-kebun karet adalah satu-satunya alternatif yang harus diambil. Mobil truk pembawa hasil-hasil pertanian adalah perusak utama jalan jalan poros yang ada. Mobil truk itu sangat besar, musim hujan turut membantu menghancurkan jalan poros yang pada umumnya sudah dipondasi dengan bebatuan.

Pernah satu kali aku harus mengendarai motor diantara ratusan pohon karet, semuanya sama, berdaun lebat, bergetah dan akar-akarnya kuat menerobos tanah. Kala itu aku merasa ada yang mengikuti, entah jenis makhluk Tuhan yang mana. Bayangan itu semakin ada, mendekat dan mengikuti ketika laju motor semakin cepat, bayangan itu semakin cepat juga mengikuti. sjasana semakin mencekam dengan terpaan angin yang berhembus dari depan, mengenai sebagian wajahku. Sesekali aku mengumpulkan keberanian untuk menoleh ke arah belakang, tapi tak menemukan apapun. Sialnya waktu itu sore, tak ada seorang pun yang sedang ‘nderes di kebun. Setan 

Beberapa cerita tentang nderes, kegiatan ini diartikan sebagai kegiatan untuk mengunduh getah karet, caranya dengan menguliti sedikit kulit batang pohon, membelah melingkar ke arah bawah, kegiatan ini lebih sering dilakukan oleh para kepala rumah tangga dikampungku. Biasanya mereka pergi dini hari, disaat ayam pun masih menutup matanya. Dengan membawa sebuah alat, bentuknya perpaduan antara golok dan arit. Agak melengkung sedikit dibagian ujungya. Konon sepertiga malam terakhir adalah waktu terbaik untuk nderes, getah karet yang dihasilkan akan lebih banyak alasannya. Aku tidak paham betul penjelasan ilmiahnya seperti apa, mungkin ini semacam kearifan lokal yang mereka miliki dan sudah terbukti puluhan tahun.

Hampir sebagian besar penduduk kampungku mendapatkan penghasilan dari pohon karet. Kebanyakan mereka memiliki kebun sendiri walau sedikit. Namun ada juga para pendatang yang mengabdikan diri sebagai buruh yang bekerja untuk para juragan yang memiliki kebun puluhan hektar pohon karet. Tidak sedikit juga orang yang sudah kaya secara materi diri kebun karet yang mereka punya. Di kampung sebelah bahkan ada beberapa keluarga yang sudah memiliki mobil mewah dari hasil kebunnya. Tidak mengherankan memang, harga karet saat ini sedang tinggi. Satu kilo getah karet bisa dihargai Rp 13.000,-. Mereka biasanya menjual setiap dua atau tiga hari dan dapat menghasilkan rata-rata 20-30 kg tergantung luas kebun yang mereka miliki.

Entah sampai berapa puluh tahun lagi pohon-pohon karet ini akan berdiri kokoh, menghasilkan oksigen yang jadi paru-paru jutaan umat dunia. Membantu menahan tanah dari derasnya terpaan air yang mengalir dengan akar-akarnya yang kuat mengikat. Atau hanya sekedar menyesatkan dan menyeramkan bagi sebagian orang yang melewatinya. Dan pastinya menghasilkan uang dan menghidupi penduduk kampungku selama ini.

Semoga jutaan pohon karet tidak lekas berganti dengan bangunan rumah atau bangunan lain tanda-tanda unsur kekotaan yang bisa memarginalisasi penduduk kampung dimana aku tinggal.

Rusdi Saleh Untuk Indonesia Mengajar.

25 desember 2010

Baca Terus Gan >>