Tampilkan postingan dengan label Indonesia Mengajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Mengajar. Tampilkan semua postingan

25 Feb 2011

goBLOG lagi !!!

indexsudah lama rasanya blog ini tak pernah tersentuh oleh tulisan-tulisan sampah, keluh kesah atau cerita-cerita aneh tak sistematis dari bagian hidup saya. akhirnya pagi ini saya menemukan kembali semangat saya untuk menulis di blog ini. sebuah pagi memang istimewa bagi saya. selain waktu untuk memulai aktivitas di setiap pagi kadang tercipta berbagai inspirasi agar hidup saya lebih baik.

seperti kata sebuah pepatah, menulis memang bukan untuk dipahami, namun untuk memahami. sangat tidak puas bila banyak batasan dalam menulis, karena saya hanya ingin menulis. tidak terlalu penting orang harus membaca tulisan saya. tidak terlalu penting juga harus berbau inspiratif, inspiratif terlalu subjektif bukan?

beberapa minggu ini memang ada beberapa cerita yang belum saya tuliskan baik di blog nya Indonesia Mengajar, ataupun di blog ini. mulai dari beberapa kegiatan di sekolah yang menarik, olimpiade Sains Kuark, Pelatihan siswa SMA, Retraining Pengajar muda ataupun kegiatan-kegiatan lainnnya sebagai pengajar muda bersama 9 orang lainnya di tim kami.

semoga awalan tulisan ini bisa menyempurnakan cerita hidup saya dan mengabadikan setiap kepingan puzzle yang ada.

 

sebenernya selain karena kurangnya motivasi dalam menulis, jaringan internet yang susahnya setengah mati juga sedikit membuat saya malas untuk menulis dan menguploadnya.   hmmm…. tapi semoga hal itu tidak menjadi kendala lagi saat ini.

 

baiklah agar tidak terkesan ini adalah tulisan sampah yang gak penting, mari kita isi tulisan ini dengan review beberapa kegiatan yang terjadi satu minggu belakangan ini.

bisa dibilang minggu ini adalah minggu yang cukup padat bagi kami sebagai pengajar muda. olimpiade sains kuark dan persiapannya menyita banyak waktu kami. administrasi dan tetek bengek yang harus segera diselesaikan di antara jam mengajar atau hanya sekedar menyebar surat undangan ke sekolah-sekolah sebelum hari Sabtu tiba.

dan akhirnya hari sabtu tanggal 19 februari pun datang dengan persiapan seadanya. cukup berkesan sebagi event yang lumayan bagi besar di kecamatan kami. Olimpiade yang khusus bagi siswa SD ini mendapat hati bagi mereka yang mungkin jarang sekali mengikuti lomba-lomba semacam ini.

setelah hari sabtu terlewati maka giliran hari minggu yang datang menghampiri, minggu biasanya diisi dengan santai-santai di rumah dihiasi dengan jumlah jam tidur yang lebih banyak. Namun minggu ini tidak demikian, program pembelajaran masyarakat untuk siswa-siswi SMA menjadi agenda kami, bulan ini adalah outbond..

beberapa persiapan sudah dilakukan sebelumnya dan sisanya adalah kreativitas kami di lapangan.

hari senin sampai hari rabu, seharusnya menjadi hari-hari indah kami, karena kami akan ke Karang, Bandar Lampung untuk kegiatan re-training. namun apa daya kegiatannya sangat padat. waktu tersisa hanya bisa dihabiskan menikmati kamar hotel tanpa hotspot. hanya ditemani listrik yang bisa dinikmati 24 jam sehari, AC dan fasilitas kamar lainnya yang tidak pernah dirasakan di sini. cukup memberikan kesegaran baru..

ups, tapi akhirnya diujung waktu sebelum perjalanan pulang kami mendapatkan waktu untuk singgah sebentar di toko buku. membeli beberapa buku dan sekedar cuci mata akhirnya kami lakukan. setelah mendapatkan inspirasi untuk mendongeng dari ibu Wei Lin pada saat retraining, maka sasaran pertama kali di toko buku adalah buku-buku dengan gambar yang menarik untuk diceritakan.

sesampainya di rumah sepertinya energi saya sudah habis. butuh beberapa suplemen dan motivasi lebih untuk tetap melanjutkan hidup [lebaiii…], semoga hari-hari ke depan lebih berwarna dan saya pun tetap bersemangat untuk melewati setiap detiknya waktu yang berputar.

Baca Terus Gan >>

10 Jan 2011

TENTANG UPACARA

 

Hari senin, dan senin ini adalah pertama di semester genap sekaligus Minggu pertama di tahun yang baru. Semangat dan antusias terasa membuncah di dada ketika harus bertemu dengan muridku pagi ini. Tidak seperti biasanya, saya menjadi bangun dan mandi lebih pagi, mungkin karena semangat yang sudah menggebu. Berangkat lebih awal dengan harapan ingin menyapa mereka yang sudah datang, membunyikan bel dan menpersiapkan upacara kenaikan bendera.

Lain dari biasanya pula, malam tadi kampung kami diguyur hujan, setelah lebih dari satu Minggu ini tidak ada sebutir air pun yang turun dari langit membuat jalan tanah menjadi becek. Sepatu yang sengaja saya semir sadari tadi pagi menjadi sia-sia tertambah sedikit cipratan lumpur di bagian pinggir dan punggung sepatu. Tapi setidaknya hujan tadi malam membuat susana pagi ini manjadi lebih segar dan udara lebih sejuk.

Tepat pukul 07.30, lonceng saya pukul tiga kali tanda aktivitas pagi di hari senin akan dimulai, Upacara kenaikan bendera. Walaupun sebenernya baru tiga guru saja dan bapak kepala sekolah yang sudah datang, namun lonceng itu harus berbunyi tepat waktu pikir saya. Kali ini yang menjadi petugas upacara adalah siswa kelas 6. Siswa yang sudah lebih banyak pengalamannya dibandingkan kelas 5 ataupun kelas 4 yang kerap menjadi petugas pula.

Dulu, ketika pertama kali mengikuti upacara beberapa pemandangan lucu sekaligus miris terlihat dari segala hal yang berkaitan dengan upacara bendera. Dimulai dari beberapa siswa kelas 4 yang masih belum hafal lagu Indonesia raya. Atau pernah juga satu kali lagu tersebut yang mendapat tambahan lirik dari muridku sehingga menjadi lebih panjang, penyebabnya karena bendera agak lama menyentuh ujung atas tiangnya sehingga mereka berinisiatif menambahkan panjang lagunya, agar pas dengan sampainya bendera dengan ujung tiang atas mungkin. Namun seiring berjalannya waktu, mereka lebih pandai melaksanakan tugasnya.

Kembali pada upacara pagi ini. Sudah lebih dari 25 menit namun upacara belum juga kami mulai. Sebagian guru masih malu-malu untuk memasuki lapangan upacara, juga mungkin karena speaker dan aki yang biasanya kami gunakan belum datang. Apes saya pikir setelah ditunggu beberapa lama pun ternyata aki yang biasanya kami pakai ngadat dan mogok untuk digunakan. Alhasil kami harus upacara tanpa pengeras suara (lagi).

Seorang guru berinisiatif mengajak petugas upacara untuk langsung saja memulai upacara walaupun dengan kondisi tanpa speaker dan beberapa guru masih asik di luar lapangan. Saya sendiri berbaris bersama murid-murid yang sepertinya sudah siap untuk mulai upacara.

Dan Upacara pun dimulai dengan apa adanya.

Sejujurnya saat ini saya lebih menghargai maknanya upacara, lebih khidmat dan lebih merasa bahwa upacara itu penting dibandingkan dengan dulu ketika saya masih sekolah. Entah mengapa, saya tidak mengerti alasannya.

******

Belum terlihat ada satu orang pun guru yang berniat menjadi pembina upacara nampaknya, ditandai dengan masih kosongnya tempat yang biasanya para guru berdiri, termasuk saya. Mereka masih tersebar di beberapa penjuru lapangan, sebagian masih berada di depan ruang guru, dan saya masih berdiri di belakang anak kelas 6, saya belum menyiapkan bahan pembicaraan untuk Amanat Upacara. Namun feeling saya merasa tidak enak, karena sepertinya sayalah yang akan berdiri di tengah lapangan itu untuk kedua kalinya menjadi pembina upacara dengan tanpa persiapan. Walaupun sebenarnya saya sangat ingin berdiri di sana, memberikan kalimat-kalimat yang bisa memberikan motivasi untuk belajar lebih keras, atau sekedar untuk bisa memberikan nasihat-nasihat yang membuat mereka tetap senang untuk menuntut ilmu, namun tentunya dengan sedikit persiapan.

Tapi apa daya, suasana yang begitu sejak tak bisa membendung pemimpin upacara itu menghampiri saya dan menjemput saya untuk menjadi pembina upacara. Pasrah saja.

Senin-senin berikutnya saya harus selalu siap berdiri di depan mereka, memberikan kata-kata inspirasional yang bisa membangkitkan setiap aliran darah mereka untuk tetap belajar, karena setiap upacara adalah hari istimewa, hari yang menyenangkan, setidaknya saya mengajarkan kepada mereka bahwa nasionalisme masih ada, nasionalisme harus tetap ada meskipun di tempat yang amat jauh dari ibu kota, di SD Bangun Jaya. Dan saya pun tak pernah takut lagi untuk berdiri paling awal di tempat biasanya para guru berdiri meskipun yang lain belum ada, untuk mereka.

Baca Terus Gan >>

30 Des 2010

TENTANG LILIN DAN HIKMAT HARDONO

 
“Kalian nantinya akan menjadi lilin di tengah masyarakat, menjadi penerang bagi kegelapan disana”
Mungkin kurang lebih itulah istilah yang diungkapkan oleh salah seorang yang sampai saat ini saya kagumi, Hikmat Hardono, Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar. Saya mengagumi beliau karena orang yang satu ini selalu memiliki power dalam mengucapkan kata-katanya. Bahkan sampai saat ini kutipan diatas jika saya ucapkan secara verbal masih sangat kental dengan intonasi dan dialek khas beliau.
Setelah saya berada di lokasi tugas saya, saya berfikir. Pada dasarnya tidak terlalu salah juga apa yang beliau ucapkan. Disini gelap, apalagi bagi keluarga yang tidak memiliki genset, hanya mengandalkan lampu minyak tanah dan sinar bulan yang kehadirannya tidak bisa diharapkan. Kampung kami memang belum tersentuh PLN jadi wajar saja jika gelap. Genset keluarga kami pun hanya mampu menyalakan listrik 4,5 jam saja. Setidaknya itulah waktu kami berbahagia menikmati pasokan listrik yang ada. Walaupun sebenanya saya tahu bukan gelap ini yang dimaksud.
Namun untuk menjadi lilin di tengah kegelapan mereka, saya pikir kurang tepat. Lilin memang adalah sebuah benda yang bisa mengeluarkan cahaya dan membuat lingkungan sekitar menjadi sedikit lebih terang. “sedikit”, memang sedikit bukan?, siapa yang bisa memastikan jika cahaya lilin amat besar sehingga bisa menerangi masyarakat.
Sebagai seorang guru yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa, kita tidak perlu menjadi lilin yang lama kelamaan akan habis. Lilin hanya menyakiti diri mereka sendiri, demi orang lain, demi pancaran cahaya mereka yang amat kecil. Lilin hanya akan hidup jika ada udara, terus apa yang terjadi jika tanpa udara. Mati.
Menjadi pengajar muda bukan menjadi sebuah lilin di masyarakat menurut saya. Karena seorang pengajar muda ada, bukan untuk menyakiti dirinya sendiri, bukan tergantung pada pihak lain, dan tidak boleh pula ada kata mati.
Menjadi pengajar muda harus tetap hidup dimanapun dan sampai kapanpun. Harus bisa melewati tantangan secara mandiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Itulah prinsip pengajar muda di masyarakat menurut saya.
Lalu saya harus menjadi apa? Menjadi genset kah, yang selalu dinanti setiap pukul 6 sore dan ditangisi setiap pukul setengah sebelas malam. bukan, Saya tidak ingin menjadi lilin ataupun genset, saya ingin menjadi matahari. Sinarnya lebih besar. Cahayanya tak ada yang mengalahkan, terik. Bisa dipastikan bahwa matahari kan ada setiap saat di posisi yang sama. Jika pagi datang maka matahari akan datang dari timur dan berujung di barat pada sore hari. Bila malam ia tidak tinggal diam, meskipun kita tak melihatnya, ia masih bisa mentransfer cahayanya pada bulan, atau jika beruntung kita bisa melihat ia memnaggil teman-teman bintangnya yang lain untuk menerangi masyarakat dari gelapnya malam. Bahkan ia pun akan memberik kita keindahan pada saat tertentu dengan sinarnya sehabis hujan lewat pelangi.
Itulah pengajar muda, dibutuhkan, selalu ada, bahkan jika kita kebingungan tak menumukannya, tak perlu berfikir untuk mencarinya karena kita sudah tahu dimana berada.
jangan hanya mau menjadi lilin. Bersikap lah seperti matahari, yang selalu bernyala, di sini, diurat darahku.
Terkadang tidak ada salahnya kita memimpikan menjadi sesuatu yang amat besar. Allah mencatat mimpi kita, percayalah jika pun kita belum menjadi matahari, mungkin orang lain yang menganggap kita sebagai matahari.
Untuk para pengajar muda yang saya anggap matahari, yang tersebar di galaksi-galaksi, iklaskan setiap cahaya yang terpancar dari diri kalian, yakinlah Allah Maha melihat dan mengetahui.
Baca Terus Gan >>

HASIL JEPRETAN KAMERA DIGITAL

Baca Terus Gan >>

28 Des 2010

TAK LEBIH BAIK ATAUPUN BURUK DARI SEKOLAH LASKAR PELANGI

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk bisa mengeksplor sekolah-sekolah yang ada di kecamatan kami. Bersama seorang guru dan dan salah seorang tetangga dari Ibu Guru Asti, kami berenam akhirnya memulai perjalanan. Bu Guru nila dibonceng oleh Bapak guru yang mengajar di sekolahnya, Pa Paino namanya. Bu guru Asti dengan tetangganya, sedangkan saya membonceng Pa Guru Riza.

Perjalanan dimulai, jalanan agak licin dan becek, hujan baru saja turun semalam. Jalanan seputaran kecamatan tak ada yang bisa dikatakan baik, semuanya akan sulit dilewati ketika sehabis hujan turun. Bbahkan untuk melewati jalan poros saja kami harus pelan mengendarai motor kami. Beberapa jalan poros ada yang sudah tidak bisa kami lewati, dan melewati ladang-ladang karet ataupun sawit adalah satu-satunya alternatif yang harus kami tempuh.

SD pertama yang kami datangi adalah SD Sumber Jaya 1. Tidak terlalu bagus kondisi bangunan sekolahnya. Tidak terlalu buruk juga memang. Hanya 3 ruangan yang sudah ter-renovasi dan sisanya masih bangunan lama, temboknya sudah usang, kayu-kayu pada pintu terlihat sudah bolong dimakan rayap. Saya melihat ada sembilan pintu ruangan, saya pikir tidak semuanya ruangan kelas, karena ukurannya ada hyang berbeda. Ruangan-ruangan terbagi menjadi tiga deret membentuk huruf U dan terdapat lapangan ditengahnya. Sayang ini liburan jadi kami tidak melihat bagaimana kondisi dan proses belajar mengajar dilakukan di sekolah ini.

Kami berkesempatan mengunjungi rumah bapak kepala sekolah yang bertugas untuk SD sumber Jaya 1 di rumahnya. Dari informasi yang didapat bahwa ada sembilan orag guru yang mengajar di sekolah tersebut. Sepertinya sudah sangat ngepas untuk bisa menjalankan aktivitas sehari-hari. Enam untuk guru kelas dan sisnya Guru Agama dan Guru Olahraga.

Sekolah kedua yang kami datangi adalah SD Sumber Jaya 2. Sekolah yang kami datangi ini agak spesial nampaknya. Ini ditandai dengan perjalanan menuju sekolah ini, medan jalannnya lumayan sulit, melewati kebun karet seperti biasanya memang namun tidak jarang kami harus berhenti dan memastikan jalan yang kami akan lewati cukup layak untuk digilas oleh ban motor. Di tengah perjalanan kami menemukan pula jembatan dari kayu yang kecil, untuk melewati ini, lebih aman kalo Bapak guru Riza harus turun terlebih dahulu.

Selang beberapa puluh menit kemudian kami sampai di perkampungan, beberapa ibu-ibu mulai terlihat dipingggir jalan sedang mengasuh anaknya. Tepat diujung jalan pertama kami menemukan sekolah yang kami tuju. SD Sumber Jaya 2, papan nama yang tertera di depan bangunan itu. Sebelah kiri lapangan nampak ada dua bapak sedang menyelesaikan pekerjaannya sebagai buruh bangunan. Sekolah ini sepertinya seang mendapatkan bantuan untuk membangun dua ruang kelas baru, mungkin pekerjaannya baru 80 % terselesaikan. Di sebelah tengah sudah berdiri 2 ruangan kelas beserta ruang guru. Sisanya sebelah kiri yang saya lihat adlah bangunan semi pemananen menggunakan kayu, agak kurang layak jika saya sebut ini kelas, hampir mau roboh sepertinya.

Ketika kami masuk menuju ruangan itu, saya langsung berfikir. Apa ada yang mau sekolah di tempat seperti ini? Apakah mereka masih mengunakan ruangan ini untuk belajar? Sepertinya iya karena baru dua kelas yang kami lihat dan sisa empat kelas lain, harus menggunakan ruang ini.

Bangunannya tidak lebih baik ataupun lebih buruk dari SD Muhammadiyah Gantong yang digambarkan Andrea Hirata di laskar Pelangi, karena sekolah yang kami lihat (belum) menggunakan penyangga kayu di sebelah sisinya untuk menahan agar tidak roboh. Namun beberapa kayu sudah lepas dari tempatnya sehingga nampak beberapa bolongan diantara penyekat antar ruangan.

Papan tulis hitam nampak menggantung di setip ruangan, saya tidak melihat ada kapur di sekitar papan tulis ini. Beberapa kursi berjejer kurang rapi ke arah belakang. Sudah agak berdebu, penyebabnya mungkin karena sedang liburan dan tidak digunakan. Tak ada jendela yang saya lihat, namun pencahayaan tetap masuk, dari celah-celah diantara kayu-kayu yang disusun horizontal memanjang dari kiri ke kanan.

Entah kenapa beberapa diantara kami malah senang menemukan sekolah ini. Agak sedikit miris terdengar, saya pikir ini hanya ada dalam reka-rekaan kami saja. Malah seharusnya kami merasa terenyuh, karena masih ada sekolah yang seperti ini. Memang bangunan fisik tidak selalu menentukan kualitas siswa yang bersekolah di SD ini. Tapi setidaknya itu akan menjadi faktor pendukung, jika lingkungan dan kondisinya nyaman untuk belajar maka semangat dan motivasinya pun akan bertambah saya pikir.

Dari informasi yang saya dapat, hanya ada 7 guru yang mengajar di tempat ini, sudah dengan Kepala sekolah. Dan anehnya rumah guru yang mengajar di sekolah ini bukan penduduk desa ini, bahkan kepala sekolahnya saja berasala dari kampung SP 3, harus melewati kampung saya tinggal ditambah jalan setapak di kebun karet yang saya lewati tadi untuk sampai di sekolah ini. Pasti akan lebih sulit dilewati lagi jika ada hujan.

Saya jadi berfikir untuk bisa mengajar di sekolah ini. Semoga satu sampai dua hari dari seminggu saya bisa mengajar di sini.

Tunggu cerita berikutnya tentang saya yang mengajar di sekolah ini.

Baca Terus Gan >>

25 Des 2010

TENTANG POHON KARET

 

Entah ada berapa juta pohon karet yang berdiri tegak di tempat aku tinggal. Hampir setiap hari aku melewatinya dan rasanya tak pernah habis-habisnya pohon itu. Dengan jumlah mereka yang banyak terkadang menyesatkan, menyeramkan bahkan membuat paranoid. Jalan poros yang ada memang sangat sulit dilalui dan menerobos melalui kebun-kebun karet adalah satu-satunya alternatif yang harus diambil. Mobil truk pembawa hasil-hasil pertanian adalah perusak utama jalan jalan poros yang ada. Mobil truk itu sangat besar, musim hujan turut membantu menghancurkan jalan poros yang pada umumnya sudah dipondasi dengan bebatuan.

Pernah satu kali aku harus mengendarai motor diantara ratusan pohon karet, semuanya sama, berdaun lebat, bergetah dan akar-akarnya kuat menerobos tanah. Kala itu aku merasa ada yang mengikuti, entah jenis makhluk Tuhan yang mana. Bayangan itu semakin ada, mendekat dan mengikuti ketika laju motor semakin cepat, bayangan itu semakin cepat juga mengikuti. sjasana semakin mencekam dengan terpaan angin yang berhembus dari depan, mengenai sebagian wajahku. Sesekali aku mengumpulkan keberanian untuk menoleh ke arah belakang, tapi tak menemukan apapun. Sialnya waktu itu sore, tak ada seorang pun yang sedang ‘nderes di kebun. Setan 

Beberapa cerita tentang nderes, kegiatan ini diartikan sebagai kegiatan untuk mengunduh getah karet, caranya dengan menguliti sedikit kulit batang pohon, membelah melingkar ke arah bawah, kegiatan ini lebih sering dilakukan oleh para kepala rumah tangga dikampungku. Biasanya mereka pergi dini hari, disaat ayam pun masih menutup matanya. Dengan membawa sebuah alat, bentuknya perpaduan antara golok dan arit. Agak melengkung sedikit dibagian ujungya. Konon sepertiga malam terakhir adalah waktu terbaik untuk nderes, getah karet yang dihasilkan akan lebih banyak alasannya. Aku tidak paham betul penjelasan ilmiahnya seperti apa, mungkin ini semacam kearifan lokal yang mereka miliki dan sudah terbukti puluhan tahun.

Hampir sebagian besar penduduk kampungku mendapatkan penghasilan dari pohon karet. Kebanyakan mereka memiliki kebun sendiri walau sedikit. Namun ada juga para pendatang yang mengabdikan diri sebagai buruh yang bekerja untuk para juragan yang memiliki kebun puluhan hektar pohon karet. Tidak sedikit juga orang yang sudah kaya secara materi diri kebun karet yang mereka punya. Di kampung sebelah bahkan ada beberapa keluarga yang sudah memiliki mobil mewah dari hasil kebunnya. Tidak mengherankan memang, harga karet saat ini sedang tinggi. Satu kilo getah karet bisa dihargai Rp 13.000,-. Mereka biasanya menjual setiap dua atau tiga hari dan dapat menghasilkan rata-rata 20-30 kg tergantung luas kebun yang mereka miliki.

Entah sampai berapa puluh tahun lagi pohon-pohon karet ini akan berdiri kokoh, menghasilkan oksigen yang jadi paru-paru jutaan umat dunia. Membantu menahan tanah dari derasnya terpaan air yang mengalir dengan akar-akarnya yang kuat mengikat. Atau hanya sekedar menyesatkan dan menyeramkan bagi sebagian orang yang melewatinya. Dan pastinya menghasilkan uang dan menghidupi penduduk kampungku selama ini.

Semoga jutaan pohon karet tidak lekas berganti dengan bangunan rumah atau bangunan lain tanda-tanda unsur kekotaan yang bisa memarginalisasi penduduk kampung dimana aku tinggal.

Rusdi Saleh Untuk Indonesia Mengajar.

25 desember 2010

Baca Terus Gan >>

23 Des 2010

CERITA LIBURAN [LAPORAN KUNJUNGAN]

beberapa hari ini saya melewatkaN hari tanpa menulis, SUNGGUH MENYAKITKAN.. liburan kadang membuat saya terlena dengan kegiatan-kegiatan duniawi. huhuhu….

4 hari 3 malam berada di kota Bandar Lampung, menghabiskan sisa uang yang ada di dompet dan nyobain beberapa makanan kekotaan yang udah lama tak bisa termakan di kampung.

jadi teringat materi Bahasa Indonesia mengenai “Membuat laporan Kunjungan”, di postingan kali ini, ingin membuat laporan kunjugan ke Bandar Lampung, walau sebenernya lupa formatnya, tapi tidak apa-apa….

 

Nama Kunjungan    : Liburan dan Pelesiran

Peserta                        : Tim IM penempatan Tulang Bawang Barat (Yuriza, Hasan, Asti, Nila, Faisal, Inay, Selfi, Yuni dan saya sendiri)

Waktu                         : sabtu 18 Desember – Rabu, 22 Desember 2010

Deskripsi Kegiatan: Liburan sekolah bagi kami saat ini tetap menyenangkan, walau pun saat ini sudah tidak berstatus sebagai pelajar lagi. liburan semester kali ini libur 2 minggu sampai tahun baru ini.

hari sabtu pagi kami merencanakan pergi ke ibukota propinsi, tanpa sebenernya tahu bagaimana kami bisa sampai sana, tapi kami ingin kesana. dengan memberdayakan “TIM Indonesia Mengajar” yang sedang singgah di tempat tugas kami, akhirnya kami berangkat. Thanx for Mr Eko dan Mr Susilo Icus.

Diawali dari Rumah makan Nasi Tiwul di jalan Etanol kami mulai menyusiun rencana. Pilihan jatuh pada memasukkan semua tas bawaan ke mobil yang dibawa TIM IM dan menyusupkan 2 pengajar muda beruntung yang bisa tidur pulas di mobil Xenia. 2 orang itu adlah Yuni dn Selfi, setelah berganti2 formasi dan perebutan kekuasaan akhirnya mereka yaang terpilih.

sisanya kami berdelapan harus menumpang bis yang entah nama dan jurusannya kemana. pokoknya nyampe terminal Rajabasa.Sialnya dari setelah beduk Magrib kami menunggu di pinggir jalan baru jam setengah 9 kami mendapatkan bis yang bisa mengantar kami menuju ke Rajabasa. Saya tidak begitu hafal berapa kami harus membayar, karena semua dikoordinir oleh ibu Guru Ginar. begitu kami naik bis, keenam kawan saya sudah mendapatkan tempat duduk selayaknya penumpang bis yang lainnya, tinggalah saya dan bu Guru Asti yang agak bingung harus duduk dimana.  sangat shock ketika kondektur menharuskan kita mundur kebelakang samapi  keluar pintu dan masuk pintu toilet.

“Iya, itu dibuka pintunya” tegas sang kondektur.

“yang mana bang?”

jreng… begitu saya buka pintu disamping toilet, nampaklah dua kursi yang ajaib. Entah mengapa sang pendesain bis ini masih menciptakan dua kursi ini, lebih tepat disebut sebagai kursi untuk tempat mes**, maklum tempatnya sangat tersembunyi dan tertutup. tanpa bisa membantah kamipun duduk dengan rasa aneh. beberapa menit kenudian pak guru Yuriza menggantikan posisi  Bu Guru Asti yang ada di sebelah saya. terpaksa saya dan Pak Guru Yuriza harus menghabiskan perjalanan di tempat duduk ini, tempat mojok, berdua, sempit dan aneh. sementara keenam pengajar muda lainnya sedang menikmati tidurnya di atas kursi yang empuk bersama bantal dan selimutnya.

tiga jam terlewati, kami dibangunkan oleh seorang teman kami, bapak Guru Faisal kalo saya tidak salah.

“Ayo pindah ada yang kosong tuh”

asik juga nih… tapi sayang tidak sampai 5 menit, sang kondektur sudah berterika

“bunerannn,,,bunerannnn,,,,bunerannnn”

kami semua diam, ta mengerti apa maksudnya.

“ayo katanya turun di bunderan, udah sampai nih”

oh mksudnya tuh bunderan tadi.. dasar kondektur yang aneh!

 

kami turun dan langsung dijemput oleh salah seorang sepupu pak Guru Yuriza menggunakan sebuah mobil. 15 menit kemudian kami sudah sampai dirumahnya Saudara Yuriza, (samapai saya pulang saya lupa bertanya siapa nama lengkap bude nya itu, tapi teman-teman memanggil beliau Umi, saya yakin bukan Umi namanya, Umi = Ibu). sudah jam 12 malam ternyata. pak eko dan mas Icus pun pamit untuk menyelesaikan tugasnya menuju jakarta kembali.

pagi pertama dirumah itu, kami mulai menyusun recana mau pergi kemana saja kami nantinya. sebagai seorang intlektual muda yang baik dan para guru yang menginginkan hal-hal terbaik untuk muridnya, maka sasaran pertama kami adalah TOKO BUKU. Untuk ukuran ibukota propinsi hanya ada 1 Gramedia di kota ini.. hmm…

kami mengunjungi toko buku pada siang hari, beberapa jam kami habiskan di toko buku ini. entah berapa uang yang dihabiskan di tokobuku, tapi yang pasti beberapa rekan saya terlihat membawa beberapa bungkusan plastik berisi buku macem-macem tergantung minatnya. Hari pertama jalan-jalan ditutup dengan mengunjungi Mall Central Plaza, menukarkan uang dengan beberapa makanan di SOLARIA, jauh-jauh ke kota tapi kebanyakan kami memesan NASI GORENG, mungkin karena House Fam kami yang jarang membuat nasi goreng dirumah.

Bada Magrib kami harus pulang, karena kami akan menonton tayangan Sepakbola semifinal AFF antara Indonesia dan Filipina.

malam itu ditutup dengan tidur nyenyak dan memperhatikan gaya tidur mereka.

 

hari kedua, kami berniat untuk pergi ke Bioskop, tapi beberapa diantara kami masih berniat pergi ke Gramedia, karena Bapak Guru Asril ketinggalan Jaketnya di tempat penitipan barang. kali ioni kami harus menaiki angkot dan Bus karena mobil yang biasanya kami pakai sedang tidak ada. kami berangkat agak pagi. Tiba di Gramedia, sya pikir akan sebentar tapi ternyata kami menemukan toko buku baru untuk disinggahi, jadilah kami menghabiskan beberapa lama untuk melihat beberpa judul buku yang berjejer dan beberapa media belajar yang bisa digunakan, fajar Utama kjalo tidak salah. saya membeli sebuah novel yang sudah lama saya cari, judulnya ISABELA. ini bukan judul lagu, ini judul novel. mengenai seorang wanita yang menghadapi perpindahan agama dengansudut pandang yang berbeda. saya lupa yang merekomendasikan novel ini…

selesai berurusan dengan toko buku, kami menaiki bus KORPRI menuju sebuah Mall, mall yang sama dengan yang kami datangi, CentralPlaza. bukan untuk membeli Nasi Goreng di Solaria, namun niatnya ingin menonton “twenty wan”. sebuah ruangan dengan layar lebar dan kursi berjajar. terbagi menjadi dua kubu, kubu A adalah orang-orang yang menyukai fil Action dan kubu B orang yang ingin menemani Pak guru Hasan menonton harry Potter. perbandingannya adalah 6:4.

sudah agak lama saya tidak duduk di depan layar yang lebar seperti ini, maklum di tempat saya tinggal tidak diperkenankan untuk adanya bioskop, karena bioskop tidak untuk orang KISMIN.selesai menonton, ternyata petualangan kami belum usai, masih ada satu tempat yang masih ingin kami kunjungi, tempat makanan kota, PIZZA HUT.

usai memakan PIZZA kami pulang dalam keadaan kenyang bdan senang.

malamnya ditutup dengan membicarakan hal-hal yang agak penting, terkait dengan program kerja setahun kedepan. dan beberapa sharing dari para pengajar muda-mudi.

hari ketiga, kami berencana untuk VAKSIN HEPATITIS B. tempat pertama yang kami kunjungi adalah RSUD ABDUL MULK, sebagai RS pemerintah seperti biasanya, penuh sesak, parkiran penuh dan orang-orang berlalu lalang mengurusi orang-orang lain yang sakit, ada pemadangan unik yang saya tenui, terdapat stiker besar berjudul ”DOA ORANG MISKIN”

sebegitunyakah rumah sakit ini dihuni oleh orang2 kismin.

inti cerita rumah sakit ini tidak menyediakan untuk Vaksin hepatitis, maka kami bergegas ke rumah sakit swasta RS URIP, saya tidak ingin mencari “DOA ORANG KAYA “ disini, kami masih mencari vaksin hepatitis B.

inti cerita, di RS ini kami tiak menemukan vaksin itu.

di tengah perjalanan kami dirujuk untuk menuju poltekes, disana ada bidan kenalan UMi, budenya riza, alagkah senang hatiku banyak penampakan-penampakan menarik disana. menyaksikan para mahasiswi dan calon perawat mengenakan baju putih itu…YANG anda lihat di gambar adalah yang tercantik versi saya.

tapi sayang mereka bukanlah orang-orang yang menyuntik kami, lumayanlah cuci mata…

inti cerita, kami mendapatkan Vaksin disini.saya disuntik

Pagi terakhir di bandar lampung, jam 8 kami sudah siap untuk pulang. akhirnya diantar oleh APV sampai denga terminal bis. langsung naik bis menuju unit 2, kali ini tempat duduk tidak terlalu menimbulkan masalah walau tetap duduk di kursi paling belakang. Kali ini perjalanan dihabiskan dalam waktu 4 jam. setibanya di Unit 2, kami makan terlebih dahulu sebelum menaiki ojeg yang kami sewa seharga 20 ribu untuk samapi ke kediaman pak Guru Faisal. sisanya saya harus menempuh perjalnana 45 menit diatas motor untuk sampai rumah house fam.

 

* Spesial buat para pengajar muda, tetaplah semangat merangkai cerita-cerita indah, membantu anak-anak Indonesia mewujudkan mimpinya.

berharap suatu saat nanti kalian membaca tulisan ini.

Baca Terus Gan >>

21 Des 2010

ANTARA PROGRAM DAN “SEBUAH TEMPAT”

 

DSC00328

Akhirnya saya kalah, tanatangan menulis 30 hari yang mengharuskan saya menulis setiap harinya selama 30 hari tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Sudah 3 hari ini, kami tim pengajar muda Tulang Bawang Barat berkumpul di Bandar lampung. Senang rasanya menghasbiskan waktu bersama mereka.

Beberapa waktu terlewati secara berkualitas sementara kebanyakan siswa waktu lainnya dihabiskan dengan belanja kebutuhan-kebutuhan mengajar, jajan makanan yang kekota-kotaan, vaksin hepatitis atau sekedar ngobrol-ngobrtol ringan.

Yang ingin saya tuliuskan disini adalah mengenai waktu berkualitas yang kami lewati, walau Cuma beberapa jam saja dari kebanyakan waktu yang kami lalui namun menghasilkan beberapa hal yang harus kami kerjakan selama dua minggu liburan ini.

Dua minggu liburan ini kami akan mengerjakan banyak hal terkait dengan program selama sisa sepuluh bulan kedepan, kami tidak ingin kehilangan moment berharga berada disini. Jadi persiapan program-program pembelajaran masyarakat dan ekstrakulikuler yang akan kami lakukan bersama harus kami rencanakan secara matang dalam liburan ini. Awal januari kami semua akan memulai aktivitas kami sebagai guru di semester yang baru dan kami berharap di hari mulainya semester baru itu, kami sudah mem-fix-kan semua yang berhubungan dengan program, penjadwalan dan semua yang akan kita lakukan di 10 bulan kedepan.

Sebenarnya banyak sekali ide untuk program pendidikan yang muncul dari masing-masing kepala para pengajar muda, namun beberapa ide belum matang sehingga masih butuh waktu untuk mengemasnya menjadi program yang bermanfaat serta menarik. Beberapa ide sudah bisa diterima untuk dilaksanakan menjadi sebuah program kerja bersama dan sisanya harus digodok lagi.

Ide yang mendesak akan kami lakukan adalah terkait dengan program olimpiade Kuark. Olimpiade bidang sains yang waktunya pelaksanaan nya sudah mepet sekali. Setidaknya sekolah dimana kami mengajar ingin berpartisipasi dalam ajang ini, berharap kami bisa menemukan anak-anak luar biasa dibidang sains. Terlebih-lebih kita bisa mengusahakan olimpiade ini bisa diselenggarakan di kabupaten kami, kabupaten tulang Bawang barat, hal ini akan meningkatkan antusias para sekolah dasar yang ada untuk mempersiapkan murid-muridnya.

Sementara saya mengeluarkan sebuah ide untuk memberikan pendidikan tambahan diluar mata pelajaran kepada siswa-siswi SMA di 2 kecamatan yang kami tinggali. Bentuk kegiatannya semacam training yang berkelanjutan, dilaksanakan sebanyak 9 kali pertemuan, mencakup materi-materi keremajaan dan pendidikan tinggi yang akan mereka hadapi. Memang kebanyakan anak-anak muda disini, setelah lulus SMA kurang termotivasi untuk bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan juga kurangnya penguasaan pengetahuan-pengetahuan yang seharusnya mereka ketahui.

Hal-hal lain yang menjadi perbincangan selama kami berkumpul adalah besarnya keinginan kami untuk bisa memberikan pengajaran ke “sebuah tempat” (rahasia red) yang terpencil dan sedikit terisolir. Semoga anda bisa membedakan istilah terpencil dan terisolir.. (kata bapak tebe: terpencil adalah ukurannya jarak yang jauh, sementara terisolir saya artikan tempat yang akses jalan menuju kesana sangat sulit)

“sebuah tempat” itu menjadi tempat yang sangat ingin kami kunjungi, tempat impian untuk memberikan pengajaran, memberikan inspirasi. Sebenarnya kami ingin membuktikan kebenaran sebuah tulisan di media massa bahwa tempat itu sudah tidak memiliki guru, konon setiap guru yang bertugas disana sudah tidak betah mengajar. Hm... kami sangat ingin ke tempat itu, setidaknya memberikan hal-hal baru yang belum pernah mereka dapatkan.

Semoga apa yang kami lakukan saat ini dan 10 bulan kedepannya menjadi sebuah keberkahan untuk orang-orang yang selama ini mendoakan kami dan untuk kami semua.

Amin.

Baca Terus Gan >>

19 Des 2010

RANKING, RAPORT DAN KECERDASAN

berakhirlah semester ganjil dan selamat datang dil liburan semester. dua minggu… cukup lama untuk ukuran seorang yang bekerja.

sabtu kemarenadalah hari yang berbeda daripada biasanya bagi siswa-siswi SDN 01 Bangun Jaya. sebuah buku berwarna merah, berisi nilai-nilai siap dibagikan para wali kelas kepada seluruh siswa tanpa terkecuali. kami biasa menyebut itu RAPORT.

Dari jaman saya SD pun buku itu konsep pembagian raport dan penilaian melalui buku itu memang sudah ada. Mungkin juga seluruh pendidikan di belahan dunia manapun menggunakan konsep raport untuk mengevaluasi kegiatan belajar mengajarnya. Namun sekarang saya ingin membahas mengenai satu hal. Masih banyak orang dan beberapa praktisi akademisi yang pro-kontra dalam menerapakan sistem ini, sistem yang saya maksud adalah sitem Ranking atau pengurutan berdasarkan nilia tertinggi sampai dengan nilai terendah. Seorang yang mendapatkan nilai akumulasi paling tinggi akan mendapatkan ranking pertama dan seterusnya.

Dalam hal ini saya berada pada posisi yang kontra untuk me-RANKING setiap anak pada buku raportnya.

********

futu 084Pagi itu, di hari sabtu, saya berkesempatan untuk menyaksikan pembagian raport salah satu rekan saya di SD bukan tempat saya mengajar. Seluruh orang tua sudah berkumpul memenuhi nundangan sekolah, mereka akan menerima raport anaknya. Setelah diawali oleh pidato dari kepalas ekolah yang masuk kelas satu persatu maka acara pembnagian raport pun dimulai. Acara perdana yaitu pembacaan RANKING pertama, kedua, dan ketiga. Setelah itu mereka (orangtua) akan maju satu persatu untuk mendapatklan hadiah dari pihaki sekolah.

******

Di satu sisi mungkin saja sistem memberikan ranking pada setiap siswa akan memberikan motivasi bagi siswa. Para siswa akan bersemngat untuk berada di peringkat satu, ingin namanya disebut di depan kelas oleh kepala sekolah atau ingin menerima hadiah dari sekolah. Walaupun saya yakin tidak semua siswa akan berpikiran seperti itu. Sebagian siswa yang memang dari dulu tidak pernah berada diurutan tinggi tidak terlalu berharap untuk mendapat ranking pertama, kedua dan sterusnya. Yang ada malah hanyalah pelabelan kepada siswa dengan ranking terbaik, mereka akan disebut si ranking satu, si ranking dua dll. Atau pun yang ada hanyalah sebuah proses belajar dinilai dari hasilnya saja. Pada hal menurut saya belajar adalah sebuah proses tidk hanya dilihat dari nilai akumulasi terakhir.

Kecerdasa tiap siswa sangat beragam, dari delapan kecerdasan yang ada. Mungkin saja salah satu siswa saya akan memiliki nilai yang tinggi poada mata pelajaran kesenian, menggambar atau musik karena kecerdasannya adalah kecerdasan audio, namun disisilain mata pelajaran lainnya akan mendapatkan nilai kecil sehingga jumlah nilai keseluruhannya pun tidak terlalu besar. Tidak ada yang salah dengan siswa saya yang satu itu. Dia berada pada keadaan normal, menonjol pada salah satu kecerdasan namun pada akhirnya sistem perankingan akan membuat dia mendapatkan label anak bodoh karena mata pelajaran yang sesuai dengan kecerdasannya hanya sedikit.

*********

Saya tidak mengeti mengapa sekolah dimana rekan saya mengajar masih menerpakan sistem ini, padahal setelah saya buka-buka raport yang saya dapatkan dari sekolah yang saya ajar, tidak ada sama sekali kolom untuk menuliskan ranking siswa. Jadi saya menangkap bahwa pemerintah, yang membuat buku raport, pun menganggap bahwa tidak seharusnya siswa-siswa diurutkan berdasarkan akumulasi nilai-nilai mereka. Biarkan mereka berkembang dengan kecerdasan mereka masing-masing, biarkan mereka memiliki kelebihan yang mereka punya tanpa dibandingkan satu persatu, karena mereka semua adalah siswa cerdas, tidak ada manusia bodoh. Mereka hanya memiliki kecerdasan yang berbeda. Dan berbeda itu unik.

Rusdi Saleh untuk Indonesia Mengajar.

Bandar Lampung, 19 Desember 2010

Baca Terus Gan >>

16 Des 2010

Menulis dan Menginspirasi

DSCF0537Hari ini benar2 tidak ada ide untuk menulis.

 

 

Padahal sebenarnya saya ingin blog ini setiap hari selalu terupdate cerita-cerita mengenai Indonesia mengajar dan isu-isu pendidikan lainnya. Menulis saat ini bagi saya sudah menjadi sebuah kebutuhan yang harus saya penuhi. Walaupun kadang setelah berada di depan notebook putih ini saya sendiri bingung apa ynag harus saya tuliskan. Saya ingin apa yang pernah diucapkan oleh Bapak Anies baswedan mengenai menulis, bahwa seorang pemimpin yang baik haris memiliki kelamampuan menulis yang baik pula. Karena sebuah tulisan bisa berdampak sangat masif bagi pembacanya. Keberadaan teknologi yang sudah sangat canggih sangat mempengaruhi dan setidaknya membawa dampak positif.

Sebuah tulisan bagi saya memilikki arti tersendiri dan bisa menjadi alat untuk menginspirasi orang lain. Saya masih ingat ketika beberapa minggu lalu bahwa tulisan saya di blog indonesia mengajar di jadikan sebagai artikel oleh humas IPB pada buletin bulananannya. Menurut sumber yang terpercaya, buletin itu dibagikan kepada para wisudawan IPB, jadi setidaknya ada 800 orang yang memegang tuliusan saya (belum tentu dibaca soalnya). Setidaknya apa yang saya tulis bisa menggugah orang lain untuk membagikannya kepada orang yang lebih banyak.

Entah mengapa pada tulisan yang saya buat akhir-akhir ini, saya tidak terlalu berharap tinggi untuk dibaca oleh orang lain. Mungkin rasa malu karena kapasitas saya dalam menulis masih pas-pasan. Atau bahan-bahan yang saya tuliskan dirasa belum mampu menginspirasi orang lain agar lebih baik. Ketika saya menulis, saya hanya mengikuti alur yang ada dalam pikiran saya. Kerap saya menuliskan sebuah paragrap, sedetik kemudian saya tekan tombol backspace untuk menghapusnya. Pesimis memang. Kadang disatu sisi saya menjadi orang yang tidak percaya diri.

Tulisan saya hanyalah pemikiran dan opini serta pengalaman-pengalaman yang saya alami. Setelah saya menuliskannya ada perasaan lega. Mungkin menulis adalah salah satu cara komunikasi yang efektif untuk menyampaikan narasi. Hanya satu arah.

Saya sering membaca beberapa tulisan teman-teman sesama pengajar muda lainnya, kadang saya terenyuh membacanya. Penggambaran mereka dalam menggunakan kata-kata membawa saya seakan-akan saya berada dalam posisinya. Bebrapa kali saya ingin tertawa terbahak-bahak ketika merka menceritakan kejadian yang lucu, disisi lain saya pernah dibut ingin menangis ketika beberapa pengajar muda merasa sendiri, merasa butuh dukungan atau ketika mereka bisa membuat anak-anak di pelosok sana untuk lebih baik, untuk momen seperti itu saya ingin menangis terharu.

Setiap orang selalu ingin menjadi orang yang lebih baik, termasuk saya. Sangat berharap kemampuan menulis saya akan meningkat menjadi lebih baik pula. Saya tidak ingin menjadi semuorna atau menjadi para pengajar muda yang lain, saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri dengan kemampuan yang lebih baik. Saya yakin saya bisa.

Rusdi Saleh Untuk Indonesia Mengajar

Teach – Write – Inspire

Baca Terus Gan >>

15 Des 2010

Guru Berdiri, Murid Berlari

 

Kawan, pasti kalian pernah mendengar sebuah pepatah yang berbunyi,

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

IMG_0612Ternyata memang benar siswa tergantung gurunya, bahkan bisa lebih parah. Menurut pepatah itu, jika gurunya saja kencing sambil berdiri maka muridnya bisa kencing sambil berlari. Lebih parah bukan?

Selama beberapa minggu menjadi seorang guru, saya betul-betul mengalaminya. Tidak sampai kencing sambil berdiri memang, namun beberapa siswa saya menjadi suka menirukan apa yang saya lakukan. Mengulang-ngulang apa yang saya ucapkan dan membuat persamaan-persamaan seperti apa yang mereka lihat pada dari saya sendiri.

Saya tidak mengerti apa motifnya secara psikologi mereka melakukan hal itu. Hanya sekedar mencari perhatiankah, atau memang mereka sangat ingin seperti gurunya atau juga memang kekuatan guru sebagai role model begitu melekatnya pada diri mereka sehingga mereka akan menganggap apa yangt dilakukan, diucapkan dan di pikirkan oleh seorang guru adalah yang terbaik untuk diri mereka.

Beberapa siswa di sekolah saya pada umumnya mereka sangat suka melakukan tindakan kekerasan kecil kepada temannya, baik itu memukul, menandenag atau sekedar iseng mamatahkan sapu kelas lain. Hari ini saja dua orang siswa menangis karena “diapa-apain” oleh temennya. Saya tidak bilang bahwa semua guru disini suka menggunakan kekerasan dalam hal mendidik siswanya. Karena banyak faktor yang mempengaruhinya, tidak hanya guru yang disekolah, tapi juga guru yang ada dirumah, yaitu orang tua mereka

Setiap guru akan menjadi seorang yang dihargai dan dihormati oleh siswanya. Guru akan disegani dan dijadikan contoh bagi kehidupan di sekolahnya, mereka mengangap bahwa seorang guru adalah panutan. Mereka hampir setiap hari bertemu dengan gurunya, berdiri di depan kelas mereka dan mengajarkan hal-hal yang mereka diharapkan bisa berguna untuk hidupnya.

Setiap perkataan seorang guru adalah seolah menjadi sinar matahari yang menoros kedalam diri mereka, kata-kata itu memiliki kekuatan tersendiri. Kata-kata yang diucapkan di sekolah, tempat yang “sakral”untuk mendidik siswanya. setiap perbuatan seorang guru ibarat berputarnya bumi pada edaran matahari, setiap saat diikuti oleh bulan sebagai muridnya. Setiap p[erbuatan guru yang diulang-ulang di depan siswanya akan mempengaruhi alam bawah sadar siswanya dan tertanam dalam pikiran siswanya, suatu saat ingatan-ingatan itu bisa saja membuncah dan berubah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh siswa.

Suatu saat kawan semua pasti menjadi guru, tidak hanya guru di sekolah, bisa saja Kawan akan menjadi guru untuk adik dan anak nantinya. Tidak perlu menjadi sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Cukup mengajarkan kebaikan pada murid anda nantinya.

Ingat apapun yang akan diajarkan kepada murid anda, nantinya akan diikuti oleh murid anda,cepat atau lambat. Percayalah.

15 Desember 2010

Rusdi Saleh Untuk Indonesia Mengajar

Baca Terus Gan >>

14 Des 2010

PENGAJAR MUDA #1

Andaikan hari ini adalah hari kejujuran sedunia, maka saya akan bilang, saya sangat senang bisa berjumpa dengan 50 orang yang menjadi sahabat-sahabat baik saya. Saya ingin bercerita mengenai mereka semua, mereka yang selalu saya bilang idealis. Mereka yang ketika ditempatkan disekolah yang sudah “berkecukupan”, dekat dengan alfamart, dekat dengan kota, mereka malah tidak mau. Mereka memilih sekolah yang merindukan hadirnya seorang Guru, sekolah yang masih “tertinggal” meskipun itu sangat dipelosok. Mereka adalah para pengajar muda. Tulisan hari ini akan saya gambarkan melalui kata-kata saya menganai beberapa dari mereka, 9 orang pengajar muda yang ditugaskan bersama saya, di Tulang bawang barat, Lampung. Karena hari ini adalah hari kejujuran sedunia, maka saya akan tuliskan apa adanya, tanpa rekayasa sedikitpun. Semoga tidak ada yang tersakiti.

Tim IM Tulang Bawang BaratPertama, Yuriza primantara. Jabatannya dalam kelompok kami adalah koordinator pengajar muda untuk kabupaten kami. Satu-satunya di kelompok kami yang bisa mengendarai mobil. Bukan tipe pria yang suka rapih, kadang tidak sistematis dan biasanya menjadi penengah diantara kami. Jika boleh ditebak maka pria satu ini memiliki sifat korelis dan plegmatis yang lebih kuat. Kadang memliki kejutan-kejutan yang tidak biasa. Menurut pemikiran saya, anak sulung yang satu ini adalah anak yang dicintai oleh orangtuanya. Pertama kali saya bertemu dengan yuriza ketika pelatihan Indonesia mengajar dimulai. Dia adalah pengajar muda pertama yang saya temui, ketika rombongan yang lain belum tiba, ia tiba lebih dulu diantar oleh kedua orang tuanya menuju Ciawi. Orangtuanya pula yang melepas ia di bandara, hanya satu-satunya dari kami yang didatangi oleh orangtuanya ketika kami pergi. Hal yang paling saya ingat dari yuriza adalah ketika ia harus berperan sebagai ibu dari seorang pahlawan saat Belajar Kreatif IPS, pada pelatihan di MTC. Jika didandani menjadi seorang wanita ternyata masih cocok saja. Ia juga cukup pandai menirukan beberapa ekspresi Tim Indonesia mengajar.

Kedua, Ginar Santika. Karena hari ini adalah hari kejujuran sedunia maka saya akan bilang kalo Ginar paling tegas di kelompok kami, gaya bicaranya sangat jutek. Hal yang paling saya ingat dari Ginar adalah ketika bermain AIUEO (permainan yang sering akmi lakukan selama pelatihan) mukanya sangat serius dan menunjukan mimik yang tak pernah kami bayangkan. Wanita yang satu ini paling banyak bawaannya kalo mau pergi. Saya menduga Ginar bertipe sanguinis sempurna. Orangnya sistematis, rapi dan sepertinya juga selalu mecatat hal-hal yang dianggap perlu. Jabatannya pada kelompok kami adalah sebagai benndahara.

Ketiga, Faisal Effendi. Saya pikir hampir 49 pengajar muda lain tahu bahwa Faisal memiiliki kebiasaan unik yang berbeda dengan orang lain. Di dunia musik ia menggandrungi gendre musik yang tidak lazim. Musik kematian, musik horor, atau musik yang tidak semestinya disukai oleh orang sebangsa manusia. Hal yang saya ingat ari Faisal adalah ketika mandi, ia tak pernah lupa untuk membawa hp dan menyalakan musik yang ia sukai, dan menjadi teman mandinya. Lalu kemudian ia akan mengikuti nada irama musik yang ia putar tadi. Atau kebiasaan lainnya adalah mengkoleksi film-film jaman dulu yang sudah dilupakan oleh sebagian orang. Beberapa hari lalu ia baru saja menitipkan kepada salah satu diantara kami untuk membeli VCD Film-film Suzana, Dono, dan Rano Karno, semuanya film-film tahun 80-90an. Gaya berbicara seorang faisal terkadang amat kaku,padahal hanya melalui telepon dengan wanita sekalipun... ia tidak pernah berbicara menggunakan gue-elo seperti kebanyakan dari kami, namun ia menggantinya dengan saya-kamu. Pilihan kata yang baik memang.

Keempat, Yunita Ekasari. Ketika anda mendengar nama yuni, biasanya orang pasti berfikir wanita ini terlahir bulan juni tapi ternyata tidak semua demikian, ia dilahirkan bulan Juli. Menurut pandangan saya yuni merupoakan orang yang melankolis. Terkadang ia suka membuat kejutan-kejutan. Seperti kebanyakan wanita pada umumnya, seorang yuni pun sangat sulit ditebak. Terkadang ia juga menajadi orang yang humoris, walaupun kebanyakan sifatnya garing... kriuk..kriuk... hehehe... beberapa hal yang saya ingat dari Yuni adalah ketika penempatan telah selesai dilakukan dan kami semua sudah berada di desa masing-masing, ada seorang guru yang selalu mengejar-ngejar Yuni sampai ke rumah orangtuanya, pasti berkat kebaikan yang selalu ia terapkan kepada orang lain.

Kelima, Hasan Asyari. Say mengenal hasan jauh hari sebelum pelatihan Indonesia Mengajar dimulai, tepatnya adalah ketika test direct assesment. Penampilannnya selalu rapi, wangi dan bersih. Pria maskulin ini kadang menjadi korban Bullying yang kami lakukan. Hasan adalah orang tersabar diantara kami. Hal yang paling saya ingat adalah ketika ia memutuskan untuk pergi sementara waktu keluar asrama pelatihan tanpa pamit. Pa Syahid, orang yang paling bertanggungjawab terhadap pelatihan kami mencari ditengah sore menjelang malam. Alhamdulillah ia kembali ke tempat asrama pelatihan dengan wajah yang kelihatannya happy, entah apa yang tejadi. Kami menganggap peristiwa itu tak pernah terjadi. Saya duga hasan adalah tipe orang sanguinis dan melankolis.

Keenam, selfi. Wanita keturunan minang yang satu ini sangat hemat berbicara. Saat ini sangat dekat dengan Yuni, teman yang rumahnya juga berdekatan. Saya menduga selfi adalah orang yang melankolis jika dilihat dari beberapa kebiasaannya. Karena selfi adalah orang yang terlahir di sumatera maka jabatannya di kelompok kami adalah seksi rekreasi, tugasnya dalah menyiapkan rute liburan tour de sumatera kami.

Ketujuh, Nila Pungky. Wanita yang stu ini memiliki tipe yang hampir sama dengan hasan. Nila seorang yang penyabar dan melankolis. Terkadang dia adalah orang yang humoris namun dengan lawakan yang ia sendiri tak tahu maknanya. Hehehe.... terkadang nila menadji orang yang plin-plan jika dihadapkan pada pilihan. hal yang paling saya ingat adalah ketika di tengah pelatihan ia harus pulang ke surabaya untuk di wisuda, namun Allah berkata lain, kereta yang ia tumpangi mengalami kecelakaan sehingga ia terlambat menuju Surabaya dan wisudanya pun gagal. Akhirnya kami para pengajar muda menyiapkan upacara wisuda untuknya. Moment yang sangat spesial untuk kami.

Kedelapan, Asril novian alifi. Tidak akan ada habisnya jika harus menceritakan lelaki yang satu ini. Selalu ada saja kelakuannya ketika pelatihan Indonesia Mengajar. Dikenal sebagai pengajar muda jenaka dengan lawakan dan gay-gayanya. Dalam satu waktu ia bisa menjelma menjadi seorang penyair dengan puisinya, di satu waktu lain ia bisa menjadi seorang musisi dan di malam hari ia bisa menjadi orkestra nyanyian ngoroknya... hehehe... cah sidoarjo ini adalah anak sastra, bukan orang yang sistematis dan tidak mencintai kerapihan. Disinyalir berbagai pihak, asril ini memiliki kekerabatan dengan Roy suryo karena penampakan wajahnya amat miri jika dipikir-pikir. Sayang beberapa pihak malas untuk berpikir.

Kesembilan, tokoh terakhir dalam kelompok kami selain saya adalah Granasti Aprilia. Ia mengklain bahwa namanya tidak ada duanya. Wanita yang satu ini mudah dikenali dari jauh jika dilihat dari postur tubuhnya, dunia anak-anak sepertinya sudah terinternalisasi dalam tubuhnya. Games, cerita, lagu ataupun hal yang berkaitan dengan jurus menghadapi anak-anak dipunyai olehnya. Hal yuang saya ingat dari seorang asti adalah ketika seringnya kami menaiki motor yang sama di seputar kecamatan tempat tinggal kami, banyak kejadian-kejadian aneh terjadi ketika ada Asti di belakang saya.

Itulah opini singkat saya mengenai sebagian dari orang-orang idealis yang saya kenal. 9 orang pengajar muda yang ditugaskan bersama saya di Tulang Bawang barat,

Saya kirimkan semangat wuuushhh buat kalian diantara bunyi jangkrik yang sedang mencari makan dan terangnya cahaya bulan di penghujung selasa malam. Selamat berjuang dan selamat hari kejujuran sedunia..

 

Rusdi Saleh Untuk Indonesia Mengajar

Selasa, 14 Desember 2010

23;28

Baca Terus Gan >>

3 Des 2010

JENGAH (HARI#1)

 

pagi ini hujan. jam 07.30 aku masih berada dirumah. cukup deras hujannya. Sedikit ku tengok bangunan putih diujung lapangan dari balik jendela rumahku. sedikit terhalang pepohonan sehingga aku tidak bisa memandang sepenuhnya keadaan sekolah. Tapi beberapa sisi sekolah berhasil aku intip. Ah anak-anak sudah datang ternyata.

 

Hari ini aku jengah, kenapa aku kalah rajin dengan mereka, seharusnya akulah yang menunggu mereka datang di depan kelas mereka, bukan  mereka yang menunggu aku datang selepas hujan. Seharusnya aku sudah hadir diantara mereka dan memukulkan sebuah palu kepada besi yang biasa kami sebut sebagai bel tanda masuk di jam 07.30. Seharusnya pula aku bisa menyapa anak-anak yang sudah datang lebih dulu untuk membersihkan ke;asnya, sekedar untuk memnerikan semangat ketika mereka menyapu ruangan yang berdebu. dan seharusnya-seharusnya yang bisa aku lakukan dipagi hari,sebelum kelas dimulai. hari ini aku jengah.

hari ini anak-anak mengajarkanku mengenai arti sebuah semangat. semangat yang mereka berikan untuk tetap belajar.

Baca Terus Gan >>

25 Nov 2010

Hari Guru, Pahlawan (Tanpa) Tanda Jasa ?

 

Hari Guru, Hmm… pasti sedikit sekali orang di Indonesia yang tahu hari guru itu kapan. barangkali sebagian orang hanya tahu hari guru setelah membaca tulisan ini. Hari guru pasti kalah tenar dengan hari Tahun Baru, (jelas karena tahun baru pasti di awal tahun), hari pahlawan atau hari ibu. Padahal sosok seorang guru merupakan orang yang penting dalam hidup kita. Setidaknya itu yang saya rasakan saat ini. Walaupun sebenarnya memperingati hanya dalam satu hari kurang begitu penting tanpa mengimbangi penghormatan jasa-jasa guru sepanjang hidup kita.

sebagai seseorang yang berhadapan langsung dengan para siswanya, seorang guru pasti memiliki tempat yang spesial di hati para siswanya. Terlepas dari beberapa guru yang memiliki moral dan tindakan yang kasar terhadap siswanya saya pikir lebih banyak guru yang yang mengajarkan dan mendidik siswanya dengan menyebarkan energi positif yang mereka miliki.

tidak banyak lulusan muda saat ini yang ingin berprofesi menjadi guru. mengajar dan berhadapan dengan anak-anak Indonesia serta bersama-sama membantu menuntaskan janji kemerdekaan Indonesia pada pembukaan UUD 1945 yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Lebih banyak anak muda memilih kerja di kantoran dengan dasi menggantung di bawah lehernya pakaian yang necis dan menghadap kepada sebuah layar komputer. Tidak ada salahnya memang ini hanya masalah pilihan hidup, bukan mana yang benar dan mana yang salah.

sudah saatnya negeri ini memiliki kekuatan baru, bukan hanya kekuatan sumber daya alam yang melimpah, bukan hanya kekuatan bahan tambang yang melimpah namun juga kekuatan sumber daya manusia yang kompeten, memiliki daya saing dan juga memilikii mimpi untuk Indonesia yang lebih baik. Sumber daya yang berkualitas tercipta dari guru-guru yang berkualitas pula, guru-guru yang setiap saat memiliki inspirasi untuk dibagikan kepada siwanya kapanpun dan dimanapun tempatnya. Karena hak mendapat pendidikan bukan hanya untuk anak-anak perkotaan tapi pendidikan juga berhak dinikmati oleh anak-anak Indonesia yang sampai saat ini bersekolah tanpa alas kaki, harus jalan kaki belasan kilometer, atau mereka yang belajar di kelas-kelas reyot yang hampir rubuh di pelosok Indonesia, di desa-desa terpencil.

semoga hari guru, yang diperingati hari ini tanggal 25 November, bisa menjadi hari penyemangat untuk para guru yang sedang mengajar dan memberikan inspirasi untuk anak-anak Indonesia dan menjadi momen untuk mengapresiasi guru-guru terbaik bangsa. Spesial untuk para Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar, yang saat ini berada di pelosok negeri, di desa-desa terpencil, teruslah bermimpi dan berusaha membuat anak-anak Indonesia tersenyum. Yakinlah bahwa Indonesia di masa depan akan lebih baik dengan hadirnya kita di depan kelas mereka.

salam sahabat wuusshhh…    

Baca Terus Gan >>

23 Nov 2010

Tamu Tak Diundang ke Sekolah

 

beberapa hari ini sekkolah kami, SDN 01 Bangun Jaya, jadi sering kedatangan “tamu tak diundang”.  Mereka datang benar-benar tak diharapkan untuk ada di sekolah kami. Siapakah mereka? mari kita lihat..

saya akan menceritakan tamu yang tak diundang yang datang hari selasa tertanggal 23 November 2010, ada 2 pihak yang datang ke sekolah kami,

1. adalah Tukang Panci “multitalent”. ah nama itu hanya saya saja yang memberikannya, karena memang panci ini sangat bisa digunakan untuk apa saja dan praktis. seperti Agnes Monica mungkin jika di dunia hiburan. Dia Multilatent bukan?

kembali ke tukang panci, saat dia datang kebetulan saja saya sedang tidak ada jadwal mengulang (red:mengajar). Agak shock ketika dia berkata ingin mempraktekan panci multitalent nya di ruang guru itu. ternyata katanya sekolah merupakan saasaran empuk untuk menjajakan barang nya.

jam istirahat kedua, akhirnya kumpulah 3 ibu dan 4 bapak guru (including Me)yang sepertinya terpaksa menonton sales panci multitalent ini memasak menggunakan pancinya. lumayanlah meendapat masakan gratis dari panci yang masih langka dipasaran (menurutnya).

Ajaib betul ini panci, bisa memasak martabak telur tanpa minyak, membuat makanan urab hanya dalam waktu sekejap dan beberapa masakan lain dengan berbagai tehnik andalannya.

sepertinya apa yang dikatakan oleh sales tersebut sudah terinternalisasi dalam diri saya.. ah berlebihan sekali, padahal terinternalisasi atau mendarah daging adalah urutan tertinggi dalam penerimaan nilai-nilai di masyarakat.

akhir cerita, masakan si sales panci multitatent sudah sampai lah di saat yang berbahagia, dengan menghasilkan 4 masakan yang istimewa: martabak telor, martabak manis, dan urab serta jagung popcorn rasa asin. Exelent…..

IMG_0605untuk menjaga kerahasian sekolah kami, maka tidak akan saya ceritakan siapa saja yang akan membeli panci multitalent ala Agnes Monica ini.

2.  Tamu tak diundang kedua adalah WTS. sialnya WTS yang satu ini lebih parah dari WTS yang biasanya. WTS disini artinya Wartawan  Tanpa Surat Kabar. bukan mencari berita namun mencari uang. Konon katanya mereka datang ada hubungannya sama dana BOS. entahlah, saya belum berhasil tahu mengenai dana bOS ini, mereka hanya mencari kebobrokan sekolah-sekolah untuk bisa dijadikan proyek atau ada juga yang menawarkan “koran”. ah saya sebenernya tidak layak menyebut itu koran. Hampir tidak menyerupai koran lah pokoknya. tersering mereka membawa koran itu yang sudah kadaluarsa untuk sekolah kami. Ada saja lah pokoknya ide nya. ketika saya menuliskan tulisan ini, tamu tak diundang kedua datang kerumah kami, karena rumah yang saya tempai adalah rumah kepala sekolah, mereka datang untuk keempat kalinya. Ketiga kali kedatangannya belum berhasil menemui Bapak Kepala sekolah, sedari pagi samapi siang tadi Bapak pergi keluar untuk mengambil dana BOS yang baru Cair.

memang untuk minggu ini akan banyak sekali WTS yang akan berkeliaran disekolah-sekolah sekitar kami yang mencari mangsa karena minggu ini adalah masa-masa pencairan dana BOS.

Mohon maaf jika bahasan jurnal kali ini agak sedikit tidak berbobot karena membahas panci multitalent tadi, tapi Wartawan Tanpa Surat kabar menjadi fenomena tersendiri di sekolah-sekolah di daerah seperti ini. Terlepas dari ada hubungannya dengan dana BOS ataupun tidak namun berharap dunia pendidikan di daerah bisa bangkit dan bergerak tanpa tekanan dari pihak manapun.

Tuba Barat, 23 November 2010

Baca Terus Gan >>

I Like Monday

 

Banyak orang membenci hari senin, tetapi tidak bagi saya. bagi saya hari senin itu menyenangkan. Menyenangkan karena hari dimana bisa memulai kembali bertemu dengan anak-anak dan pastinya karena ada satu acara rutin yang saya nantikan, “Upacara Bendera”.

entah kenapa saya menjadi orang yang suka upacara bendera. Hal yang ketika jaman SMA malas saya lakukan.

IMG_0590

walau saya harus panas-panasan atau harus mengatur anak-anak berbaris sebelum uapacara dimulai, tapi sekali lagi saya suka itu.

dulu waktu di SD saya masih ingat ketika saya harus menjadi pemimpin upacara. dulu pun upacara bendera sangat menyenangkan, bisa berdiri memimpin teman-teman yang lain. berdiri tegak, seakan-akan saya lah orang yang paling berani, paling hebat dan palling segalanya.

tak pernah terbayangkan setelah lulus SMA saya harus kembali upacara bendera tiap senin pagi namun sekarang berbeda. Saya berdiri di depan bersama guru yang lain bahkan senin kemaren saya menjadi Pembina Upacara. hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelum saya menjadi pengajar muda.

ada perasaan gugup, grogi dan tidak percaya diri rasanya menjadi pusat di tengah kerumunan orang yang baru saya kenal, ada anak-anak yang senyum-senyum melihat keberadaan saya di depan mereka, ada yang cuek dan ada yang menatap saya begitu tajamnya melihat senti demi senti bagian tubuh saya.

Mungkin senin itu hari yang kurang beruntung buat saya, tidak ada satu orang pun yang memberi tahu jika pembina upacara pada upacara kali ini adalah saya. jadi ketika MC berkoar “Pembina upacara memasuki lapangan upacara” tiba-tiba petugas upacara yang bertugas menjemput ke tempat para dewan guru berada dan dia mengarah ke arah tempat saya. “waduh ko saya sih” teriaku dalam hati.

Pak Sutarto, guru kelas 3 yang berdiri persis disampaing saya menganggukan kepala. Hanya menganggukan kepala. gerakan yang seakan-akan memberikan kepercayaan diri kepada saya untuk segera maju dan berdiri di tengah lapangan.

apa daya selain harus maju dan berdiri di titik itu. detik-detik pertama berdiri di titik itu adalah memikirkan apa yang harus saya bicarakan ketika nanti “amanat pembina upacara”.   otak kiri dan kanan saya harus berputar secara cepat mencari kesimbangan dan dapat menghasilkan kata-kata yang setidaknya enak di dengar oleh para guru, kepala sekolah dan tentu saja mudah dipahami oleh anak-anak.

Hari Guru. huhu akhirnya saya mendapat topik, hari gguru menyelamatkan saya untuk membisu dihadapan orang-orang yang mengharapkan saya bisa berbicara banyak.

walaupun tidak seberkualitas Mr Anies baswedan, tapi setidaknya saya bisa mengingatkan bahwa guru adalah orang yang harus kita hormati dan hargai. tanpa mereka orang-orang tak mengenal pendidikan, guru lah ujung tombak pendidikan yang selalu berhadapan dengan anak-anak Indonesia.

Baca Terus Gan >>

15 Nov 2010

Mentari, Abah Iwan dan Inspirasi

 

“Hari ini hari milikmu

juga esok masih terbentang

dan mentari kan tetap bernyala

disini diurat darahku…”

 

untuk kedua kalinya saya memulai tulisan saya dengan lirik diatas. saya sangat suka dengan kata-kata yang tertulis pada lagu ini, padahal baru pertama kalinya saya mendengar. begitu membuat bulu kuduk  saya merinding disko, ketika abah iwan abdurahman menyanyikan lagu itu dihadapan para pengajar muda.

mungkin seharusnya saya tahu lagu itu sebelum abah iwan menyanyikannya di depan saya agar ketika dia menyanyikannya saya bisa ikut bernyanyi. tapi tak apalah, terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali bukan…

Hari ini hari milikmu… sebenarnya masih bertanya-tanya apa maksud dari lirik dalam lagu ini.. jika boleh ngasal maka lagu ini ingin saya artikan bahwa kita menjalani setiap detik waktu yang berjalan, setiap menit yang berlalu dan hari yang mengalir dengan pengaturan oleh diri sendiri dan seharusnya waktu menjadi milik kita, jadi setiap hari adalah milik kita sendiri. hari ini hari milikmu.

Juga esok masih terbentang…. sebuah optimisme yang terpancar dari bagian lirik yang satu ini, rasa optimis bahwa hari esok masih ada dan akan lebih baik dari hari sebelumnya, mengajarkan kepada kita untuk bisa mempersiapkan hari esok di mulai dari hari ini.

dan mentari kan tetap bernyala…. mentari atau matahari akan tetap bersinar dan kita yang harus membuat matahari itu tetap memancarkan sinarnya untuk kehidupan di dunia. kita lah ynag harus selalu memberikan energi positif kepada setiap orang agar orang lain senantiasa juga memiliki energi positif, seperti layaknya mentari yang tak pernah lelah menyinari setiap apapun dihadapannya.

Disini diurat darahku…. urat darah menunjukan suatu tempat yang amat dalam, tempat yang mungkin saja belum pernah kita lihat, saya tidak begitu paham maksudnya seperti apa, mungkin ingin menunjukan bahwa di dalam temapt yang paling tersembunyi sekalipun masih ada semangat dan motivasi yang teramat besar seperti layaknya sinar mentari yang selalu menerangi setiap harinya..

berharap setiap hari menjadi hari yang spesial dengan alunan lagu ini, menyala dan tetap bersemangat mengarungi hari sebagai pengajar muda yang tak pernah lelah berusaha menginspirasi anak-anak Indonesia yang memiliki hak pendidikan yang sama dengan anak-anak lainnya. dan tetap berjuang menuntaskan janji kemerdekaan Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

spesial thanx for Iwan Abdurahman yang telah menciptakan lagu yang luarbiasa.

Tulang Bawang Barat, 15 November 201o

Baca Terus Gan >>

2 Nov 2010

Belajar Mengajar di Indonesia Mengajar

Tidak terasa hari ini adalah hari keempat menjalani Praktek Mengajar di SD Pancawati 2, Ciawi Bogor. Sebagai calon pengajar muda yang akan mengajar di Sekolah-sekolah di desa terpencil saya berkewajiban untuk menjalani masa ini. Saya sudah merasakan mengajar kelas 1, kelas 3, kelas 4 dan kelas 6. Sangat berbeda feel yang dirasakan ketika mengajar di kelas yang tingkatannya tidak sama. Hari ini tepat tanggal 28 Oktober, diperingati hari sumpah pemuda. Materi yang saya ajarkan hari ini pun adalah materi mengenai Sumpah Pemuda pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. tapi sebenarnya bukan itu yang ingin saya ceritakan.
Saya ingin bercerita tentang gadis yang saya temui setelah selesai mengajar tadi. Namanya Yuli (red: bukan nama sebenarnya), siswi kelas 4. Saya temui dia secara tidak sengaja di sebuah saung, di pinggir lapangan yang memang sepertinya dibuat untuk duduk-duduk melihat siswa lain yang sedang bermain di lapangan.
“Halo namanya siapa?”
“Yuli”
“kamu kelas berapa?”
“Kelas 4, ka” 
Pembicaraan pun sempat berhenti ketika ada anak lain yang menghampiri dan saya mencoba mengajak mereka berbicara.
Beberapa saat kemudian, saya kembali tertarik memperhatikan gadis bernama Yuli tersebut. Tatapannya kosong, melihat teman-teman sebayanya memainkan permainan karet.
“kamu ngga ikutan maen karet”
“Ngga bisa ka..”
“Kamu ngga jajan?”
“Ngga ka.. “
“ngga punya uang?”
“Iya, ga pernah jajan”
“Udah sarapan?” saya kembali bertanya.
“belum ka, ga pernah sarapan”
“Tapi tiap hari suka makan?”
“hm... iya sekali” jawabnya malu-malu.
Agak sedikit miris mendengar cerita gadis yang saat itu ada dihadapan saya. Sangat kontras dengan kehidupan saya belakangan ini yang selalu teratur dalam hal makan, 3 x sehari ditambah extra puding (snack) yang jumlahnya sama, 3 kali. Namun anehnya saya merasa kurang bersyukur dengan apa yang saya dapat selama ini.
Satu hal lain yang bisa saya lihat dari seorang gadis yang ternyata sudah ditinggal wafat ibunya, dan ditinggalkan ayahnya ke jakarta untuk bekerja, tidak pernah jajan disekolah dan makan hanya satu kali sehari namun memiliki semangat dan motivasi yang kuat untuk bersekolah.
Saya yakin masih banyak sekali Yuli-Yuli kecil lain yang memiliki kemauan keras untuk bisa sekolah walau dengan keadaan yang terbatas. Tidak hanya di Ciawi, mungkin saja di daerah pedalaman yang tidak pernah kita kunjungi.
Saya juga sangat yakin banyak sekali orang yang mendedikasikan diri untuk dunia pendidikan.
Yang akan saya lakukan mungkin hanya akan menjadi sebagian kecil dari menuntaskan janji kemerdekaan kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Gerakan Indonesia Mengajar memberikan kesempatan kepada saya untuk Mengajar dan belajar bersama anak-anak yang memiliki motivasi belajar yang tinggi di daerah terpencil sana. Berharap suatu saaat nanti hal itu bisa menjadi passion ataupun gaya hidup anak muda sehingga dunia pendidikan Indonesia lebih baik.
Baca Terus Gan >>

15 Okt 2010

Sahabat, Teman atau Biasa

Hanya ingin menuliskan sesuatu malam ini...
Bukan cerita cinta yang sedang jatuh hati atau patah hati... ini cerita tentang persahabatan.. persahabatan antar kami, pengajar muda.
Lampu itu masih menyala, padahal biasanya jam seperti ini kami sudah dipaksa untuk tidur.
Tapi pada kenyataannya sekarang kami berada pada garis lingkaran di dalam sebuah ruangan. Ya, kami membuat sebuah lingkaran manusia, berbaris berderet untuk menghampiri orang-orang dalam lingkaran satu persatu. Saya yakin benar moment ini jadi salah satu moment yang tak pernah akan dilupakan atau terlupakan oleh para pengajar muda di Indonesia Mengajar, Tanggal 14 oktober 2010.  Kami harus menyatakan “rasa” kepada setiap orang-orang yang ada di ruangan itu. Rasa yang saya maksud adalah rasa yang ada dalam hubungan pertemanan atau persahabatan. Awalnya berat ketika harus memilih mengacungkan jari telunjuk saja pertanda hanya menganggap sebagai orang biasa, atau mengacungkan jari telunjuk dan dan jari tengah kepada orang yang menghampiri kita pertanda kita menganggap sebagai teman atau bisa saja menaruh telapak tangan kanan kita di dada atas bagian kiri yang mencirikan kita menganggap sebagai sahabat. Kami akan saling memberikan tanda tersebut ketika saling berhadapan satu sama lain.
Hari itu akan jadi luar biasa dimana setiap orang semestinya bisa jujur pada dirinya sendiri akan memperlakukan sebagai apakah orang-orang yang ada dihadapan kita.
Mungkin akan terasa berat bagi sebagian orang karena hidup lebih dari 3 minggu  dalam satu atap yang 24 jam nya selalu berinteraksi dengan orang-orang tersebut kadang meninggalkan sedikit luka dihati orang lain. Walaupun belum pasti terjadi juga.
Masing-masing orang mulai bergerak mendekat, hingga tiba juga pada  pada satu titik ketika kita harus memilih, akankah membuka diri dan menjadikan orang lain sabagai sahabat kita sndiri?  meskipun kita baru saja mengenalnya atau bahkan pernah ada rasa tidak suka pada orang itu.
Karena ketika kita menjadikan orang lain sangat berharga bagi kita dengan menjadikannya sahabat maka bisa saja orang lain yang tadinya hanya menganggap kita sebagai teman akan mengubah kita menjadi sahabatnya, walaupun sebenarnya ada juga orang yang hanya ingin berteman saja. Tidak apa-apa.. Mungkin itulah esensi hidup. Penuh dengan pilihan dan konsekuensinya.
Bahagia dan sebuah prestasi rasanya karena hari itu saya bisa memulai persahabat terlebih dulu dengan orang yang ada dihadapan  saya dengan tidak pernah menurunkan sedetik pun tangan kanan di dada kiri. Seakan-akan hati kecil berteriak... “hai kau yang ada dihadapanku, maukah bersahabat denganku...”
Saya tidak akan peduli apa yang akan dilakukan oleh jari-jari tangan dan telapak tanganmu wahai orang yang ada dihadapanku, hanya ingin memulai sesuatu yang baik, bersahabat dengan mu, cukup itu saja..
Persahabatan itu ada, bisa diciptakan. Jika kita ingin punya sahabat maka berpikirlah positif dan jadikan orang lain sahabat kita, meskipun kita baru mengenalnya. Tak ada ruginya bukan.
Spesial untuk para  sahabat pengajar muda di program Indonesia Mengajar yang penuh inspirasi.
Baca Terus Gan >>

29 Sep 2010

Bercinta dengan Profesi Baruku

Sebenarnya sangat banyak yang ingin dituliskan dipostingan blog ini, tapi gairah untuk menulis tiba-tiba saja hilang beberapa hari belakangan ini. Mungkin juga karena aktivitas yang cukup padat.

Beberapa hari ini buanyak sekali mendapat motivasi dan semangat untuk bekal menjadi guru yang kreatif dan inspiratif.

Hari sabtu menjadi weekend yang luarbiasa karena bisa bertemu dengan Bapak Munif Chatib, salah satu tokoh pembaharu dunia pendidikan di Indonesia dengan ajaran Multiple Intelegences. Satu kalimat yang masih teringat yang beliau ucapkan adalah 'tidak ada manusia bodoh yang terlahir di dunia ini karena setiap manusia memiliki kecerdasan yang berbeda-beda'

Sangat mengasyikan belajar menjadi Guru versi beliau, Guru yang tidak membosankan dengan ice brieking dan fun story yang dibawakannya.

Seorang Guru tidak hanya harus mengajar namun lebih daripada itu, memanusiakan manusia. Itulah 'sekolahnya manusia' ajarannya beliau.


Hari Senin lebih Dahsyat dari pada hari senin biasanya,, senin yang luar biasa. Powerpull day.
Bobby Hartanto nama lengkap beliau. Quantum Learning merupakan nama ajaran yang disebarkan. Entah makna hapiahnya apa. Hal saya dapat tangkap adalah Metode yang bisa membuat mata setiap siswanya tak berkedip sekejap pun.
He is very very energik.
Penuh dengan semangat, inovatif, kreatif, pokoknya hampir semua sosok guru ada pada beliau.

Dengan metode-metode mengingat yang luar biasa membuat setiap orang bisa mengingat hal-hal yang sebelumnya sulit dilakukan.
Amazing.


Berharap semua yang sudah diajarkan menjadi bekal bagi para pengajar muda ketika mulai menjadi guru nanti.

Tetep berkhusnuldzon pada apapun yang Allah kehendaki..
Tetap semangat dan jangan pantang menyerah.

-kenzia, 29sept10-
Baca Terus Gan >>