30 Des 2010

TENTANG LILIN DAN HIKMAT HARDONO

 
“Kalian nantinya akan menjadi lilin di tengah masyarakat, menjadi penerang bagi kegelapan disana”
Mungkin kurang lebih itulah istilah yang diungkapkan oleh salah seorang yang sampai saat ini saya kagumi, Hikmat Hardono, Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar. Saya mengagumi beliau karena orang yang satu ini selalu memiliki power dalam mengucapkan kata-katanya. Bahkan sampai saat ini kutipan diatas jika saya ucapkan secara verbal masih sangat kental dengan intonasi dan dialek khas beliau.
Setelah saya berada di lokasi tugas saya, saya berfikir. Pada dasarnya tidak terlalu salah juga apa yang beliau ucapkan. Disini gelap, apalagi bagi keluarga yang tidak memiliki genset, hanya mengandalkan lampu minyak tanah dan sinar bulan yang kehadirannya tidak bisa diharapkan. Kampung kami memang belum tersentuh PLN jadi wajar saja jika gelap. Genset keluarga kami pun hanya mampu menyalakan listrik 4,5 jam saja. Setidaknya itulah waktu kami berbahagia menikmati pasokan listrik yang ada. Walaupun sebenanya saya tahu bukan gelap ini yang dimaksud.
Namun untuk menjadi lilin di tengah kegelapan mereka, saya pikir kurang tepat. Lilin memang adalah sebuah benda yang bisa mengeluarkan cahaya dan membuat lingkungan sekitar menjadi sedikit lebih terang. “sedikit”, memang sedikit bukan?, siapa yang bisa memastikan jika cahaya lilin amat besar sehingga bisa menerangi masyarakat.
Sebagai seorang guru yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa, kita tidak perlu menjadi lilin yang lama kelamaan akan habis. Lilin hanya menyakiti diri mereka sendiri, demi orang lain, demi pancaran cahaya mereka yang amat kecil. Lilin hanya akan hidup jika ada udara, terus apa yang terjadi jika tanpa udara. Mati.
Menjadi pengajar muda bukan menjadi sebuah lilin di masyarakat menurut saya. Karena seorang pengajar muda ada, bukan untuk menyakiti dirinya sendiri, bukan tergantung pada pihak lain, dan tidak boleh pula ada kata mati.
Menjadi pengajar muda harus tetap hidup dimanapun dan sampai kapanpun. Harus bisa melewati tantangan secara mandiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Itulah prinsip pengajar muda di masyarakat menurut saya.
Lalu saya harus menjadi apa? Menjadi genset kah, yang selalu dinanti setiap pukul 6 sore dan ditangisi setiap pukul setengah sebelas malam. bukan, Saya tidak ingin menjadi lilin ataupun genset, saya ingin menjadi matahari. Sinarnya lebih besar. Cahayanya tak ada yang mengalahkan, terik. Bisa dipastikan bahwa matahari kan ada setiap saat di posisi yang sama. Jika pagi datang maka matahari akan datang dari timur dan berujung di barat pada sore hari. Bila malam ia tidak tinggal diam, meskipun kita tak melihatnya, ia masih bisa mentransfer cahayanya pada bulan, atau jika beruntung kita bisa melihat ia memnaggil teman-teman bintangnya yang lain untuk menerangi masyarakat dari gelapnya malam. Bahkan ia pun akan memberik kita keindahan pada saat tertentu dengan sinarnya sehabis hujan lewat pelangi.
Itulah pengajar muda, dibutuhkan, selalu ada, bahkan jika kita kebingungan tak menumukannya, tak perlu berfikir untuk mencarinya karena kita sudah tahu dimana berada.
jangan hanya mau menjadi lilin. Bersikap lah seperti matahari, yang selalu bernyala, di sini, diurat darahku.
Terkadang tidak ada salahnya kita memimpikan menjadi sesuatu yang amat besar. Allah mencatat mimpi kita, percayalah jika pun kita belum menjadi matahari, mungkin orang lain yang menganggap kita sebagai matahari.
Untuk para pengajar muda yang saya anggap matahari, yang tersebar di galaksi-galaksi, iklaskan setiap cahaya yang terpancar dari diri kalian, yakinlah Allah Maha melihat dan mengetahui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar